Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menargetkan perampingan signifikan pada portofolio Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dari total 1.074 perusahaan, jumlah entitas BUMN diproyeksikan menyusut drastis hingga tersisa 254 perusahaan pada akhir 2026 mendatang.
Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria mengungkapkan bahwa langkah penataan ini telah berjalan secara bertahap. Selama satu setengah tahun mengelola BUMN, Danantara tercatat telah menutup sekitar 290 entitas yang dinilai tidak lagi optimal.
Alasan dan Skema Rasionalisasi Portofolio
Perampingan skala besar ini dirancang untuk membentuk BUMN yang jauh lebih efisien, lincah, kompetitif, dan memiliki daya saing kuat di tingkat global.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dalam proses penataan, Danantara mengelompokkan perusahaan BUMN berdasarkan tolok ukur (benchmark) industri serta ukuran pasar (market sizing). Evaluasi juga melibatkan analisis kapabilitas internal, mencakup kekuatan finansial hingga kesiapan sumber daya manusia dan organisasi.
Berdasarkan penilaian tersebut, 1.074 perusahaan dipetakan ke dalam empat matriks aksi korporasi:
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

- Likuidasi: Penutupan penuh bagi perusahaan yang dinilai tidak lagi relevan atau tidak dapat dipertahankan.
- Divestasi: Pelepasan kepemilikan bagi unit usaha yang masih memiliki nilai komersial (value).
- Konsolidasi: Penggabungan entitas sejenis. Salah satu realisasinya adalah konsolidasi jaringan rumah sakit BUMN yang direncanakan meluncur dengan nama Indonesia Hospital pada September ini.
- Restrukturisasi: Penyehatan bisnis dan finansial melalui sejumlah skema, mulai dari aksi korporasi terpadu (multi-corporate action), suntikan modal (equity injection), restrukturisasi kredit, hingga pemotongan utang (haircut).
Dampak dan Transformasi yang Berjalan
Salah satu BUMN yang tengah menjalani restrukturisasi mendalam adalah Telkom, yang diarahkan untuk mengubah model bisnisnya menjadi strategic holding.
Transformasi bisnis, pembenahan tata kelola manajemen, pengetatan efisiensi, dan rangkaian restrukturisasi ini mulai memperlihatkan perbaikan kinerja nyata pada sejumlah perusahaan pelat merah. Entitas seperti PT Semen Indonesia Tbk, PT Pegadaian, PT Pupuk Indonesia, PT Timah Tbk, hingga PT Krakatau Steel Tbk tercatat membukukan kinerja positif dalam beberapa waktu terakhir seiring berjalannya program restrukturisasi tersebut.






