Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) mencerminkan kondisi ketika total pengeluaran devisa untuk pembayaran impor barang, jasa, serta transfer pendapatan ke luar negeri melebihi total penerimaan devisa dari ekspor dan transfer masuk. Indikator makroekonomi ini menjadi rujukan utama dalam memantau ketahanan eksternal suatu negara.
Catatan Bank Indonesia menunjukkan defisit transaksi berjalan RI pada kuartal II-2026 membengkak hingga menyentuh US$ 12,5 miliar. Angka tersebut setara dengan 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), meningkat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Perbandingan Angka Kuartal I dan Kuartal II-2026
Pergerakan neraca transaksi berjalan Indonesia mencatatkan lonjakan defisit tajam dalam rentang tiga bulan:
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

- Kuartal I-2026: Defisit transaksi berjalan berada di angka US$ 3,6 miliar atau sekitar 1,0% terhadap PDB.
- Kuartal II-2026: Defisit transaksi berjalan melonjak menjadi US$ 12,5 miliar atau setara dengan 3,3% terhadap PDB.
Kenaikan defisit bersih sebesar US$ 8,9 miliar ini dipengaruhi oleh dinamika perdagangan barang migas, nonmigas, dan transaksi pendapatan.
Komponen Utama Pembentuk Defisit Transaksi Berjalan
Defisit pada kuartal II-2026 terbentuk dari pergeseran performa pada empat pos neraca transaksi berjalan:
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

1. Neraca Perdagangan Migas Defisit neraca perdagangan minyak dan gas (migas) tercatat makin melebar. Lonjakan ini dipicu oleh naiknya volume dan nilai impor minyak mentah serta produk olahan di tengah tingginya harga minyak mentah di pasar global.
2. Neraca Perdagangan Nonmigas Surplus neraca perdagangan barang nonmigas mengalami penyusutan. Penurunan surplus ini terjadi akibat laju impor komoditas nonmigas yang tinggi untuk menopang kebutuhan aktivitas perekonomian domestik yang terus berjalan.
3. Neraca Pendapatan Primer Defisit neraca pendapatan primer mengalami peningkatan seiring dengan melonjaknya pembayaran imbal hasil investasi dan pendapatan primer kepada investor nonresiden.
4. Neraca Pendapatan Sekunder Surplus pada neraca pendapatan sekunder鈥攜ang mencakup transfer personal dan hibah鈥攂erada pada posisi relatif stabil jika dibandingkan dengan pencapaian triwulan I-2026.
Penilaian dan Prospek Bank Indonesia
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa peningkatan defisit transaksi berjalan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan bersifat temporer. Fluktuasi harga energi global serta siklus kebutuhan impor bahan baku dan pembayaran imbal hasil investasi musiman dinilai menjadi pemicu utama lonjakan tersebut, tanpa mengindikasikan pelemahan permanen pada fundamental eksternal.






