PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatat perkembangan positif dari lini perbankan syariahnya, Bank Syariah Nasional (BSN). Kinerja operasional maupun keuangan BSN dilaporkan terus menunjukkan tren pertumbuhan yang solid, baik dari sisi ekspansi bisnis maupun perolehan laba.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu memaparkan bahwa salah satu indikator utama dari capaian positif tersebut adalah efisiensi pengelolaan dana. Dari aspek biaya dana atau cost of fund, BSN mampu mencatatkan efisiensi yang sangat baik, bahkan lebih unggul dibandingkan dengan kinerja bank induknya.
Efisiensi Dana dan Kualitas Pembiayaan Terjaga
Nixon LP Napitupulu mengungkapkan bahwa cost of fund BSN berada pada posisi yang terjaga di level 2,7 persen. Capaian rasio biaya dana tersebut dinilai lebih baik daripada struktur biaya dana yang dicatatkan oleh BTN sebagai entitas induk.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Selain efisiensi biaya dana, BSN juga berhasil menjaga kualitas portofolio penyaluran dananya secara terukur. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BSN yang bertahan di bawah angka 3 persen.
Menurut Nixon, kualitas pembiayaan tersebut didorong oleh tingginya kedisiplinan nasabah pada segmen pembiayaan syariah di lapisan bawah. Jika dibandingkan dengan segmen non-syariah, nasabah pada segmen syariah di tingkat bawah dinilai jauh lebih berdisiplin dalam memenuhi kewajiban pembiayaannya.
Dampak Spin-Off dan Prospek Pertumbuhan
Langkah pemisahan usaha atau spin-off dari Unit Usaha Syariah (UUS) BTN menjadi Bank Syariah Nasional (BSN) diyakini membawa dampak positif jangka panjang. Pemisahan kelembagaan ini memberikan keleluasaan serta fleksibilitas yang lebih besar bagi manajemen BSN dalam merancang dan memperluas portofolio produk syariah yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Secara kinerja neraca, BSN membukukan ekspansi aset yang signifikan. Berdasarkan laporan kinerja per Juni 2026, total aset BSN melonjak 20,1 persen secara tahunan (year-on-year) hingga mencapai Rp 78,8 triliun. Realisasi aset tersebut berhasil melampaui target yang ditetapkan untuk periode semester I dengan tingkat ketercapaian sebesar 100,8 persen.
Menatap sisa tahun berjalan pada 2026, manajemen BSN mematok sejumlah target pertumbuhan bisnis. Hingga akhir tahun 2026, BSN menargetkan total perolehan aset menyentuh kisaran Rp 87 triliun. Di samping itu, target penyaluran pembiayaan diarahkan mencapai Rp 66 triliun, sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) ditargetkan menyentuh nominal Rp 69 triliun.






