Aktivitas pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, diwarnai dengan program pelatihan bahasa asing yang diinisiasi oleh warga binaan. Leny (42), seorang narapidana yang pernah berprofesi sebagai dosen di Beijing, China, mengajar bahasa Mandarin kepada sesama rekan narapidana di balik jeruji besi.
Leny telah menjalani masa pidana hampir dua tahun di lapas tersebut. Perempuan berdarah Tionghoa ini sebelumnya menetap di China selama kurang lebih 28 tahun dan sempat bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Beijing serta menjadi penerjemah. Ia divonis hukuman 4 tahun 6 bulan penjara atas kasus penipuan pemberangkatan siswa ke China dan operasional kursus bahasa Mandarin ilegal.
Metode Belajar Interaktif untuk Warga Binaan
Inisiatif kelas bahasa Mandarin dirintis Leny sejak tahun 2025. Saat pertama kali dibuka, kelas tersebut hanya diikuti oleh 12 narapidana. Namun, metode pengajaran yang santai dan menekankan percakapan sehari-hari membuat minat warga binaan meningkat pesat.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Leny memilih tidak membebani peserta dengan teori tata bahasa yang kaku atau keharusan menghafal karakter Hanzi. Pembelajaran difokuskan pada pengucapan, angka, perkenalan diri, dan lagu. Leny menuliskan aksara Hanzi di papan tulis sementara peserta mencatat pelafalannya dalam Pinyin. Berkat pendekatan tersebut, jumlah peserta kelas berdurasi satu jam ini melonjak menjadi sekitar 50 hingga 60 orang pada Maret 2025.
Perubahan Dinamika Kelas dan Keterampilan Lain
Perjalanan kelas Mandarin tersebut mengalami perubahan pada Januari 2026 saat seorang tenaga pengajar sosial dari pihak gereja mulai masuk ke Lapas Perempuan Bandung. Leny kemudian mengambil peran pendamping dan tidak lagi menjadi pengajar utama.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Seiring peralihan metode pengajaran ke format yang lebih teoretis dan fokus pada nada suara (tones), minat peserta mengalami penurunan drastis. Jumlah narapidana yang bertahan mengikuti kelas menyusut dari puluhan orang menjadi sekitar sembilan orang.
Selain mengajar bahasa Mandarin, Leny memanfaatkan fasilitas salon di lapas untuk membagikan keahlian pijat refleksi yang ia pelajari dari kegiatan ekstrakurikuler semasa sekolah di China. Selama menjalani hukuman, ia juga mengikuti program vokasi gratis yang disediakan lapas, seperti pelatihan pembuatan batik dan kue (bakery), yang diharapkan menjadi bekal keterampilan setelah masa pidana selesai.






