Sistem dan arah kebijakan ekonomi Indonesia dinilai perlu lebih berorientasi keluar (outward looking) melalui penguatan sektor eksternal. Langkah ini dipandang krusial guna mempertebal cadangan devisa nasional sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.
Pandangan tersebut disampaikan Ekonom Senior Didik J Rachbini. Menurutnya, perekonomian Indonesia membutuhkan peningkatan volume transaksi bisnis yang mampu mendatangkan penerimaan signifikan dari luar negeri, ketimbang terus bertumpu pada serapan pasar dan konsumen domestik semata.
Pengembangan kebijakan ekonomi berbasis ekspor dinilai menjadi fondasi utama untuk menarik aliran devisa dolar AS dalam jumlah besar. Pasokan devisa yang kuat dan berkesinambungan tersebut merupakan elemen penting untuk menopang ketahanan nilai tukar rupiah.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Keterbatasan Tumpuan Ekonomi Domestik
Didik memaparkan bahwa aktivitas ekonomi di pasar domestik memang memegang peran penting dalam menciptakan lapangan kerja, memberikan keuntungan bagi dunia usaha, serta mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Kendati demikian, transaksi di dalam negeri tidak secara langsung menghasilkan pemasukan devisa segar ke kas negara.
Tantangan struktur devisa Indonesia terlihat saat disandingkan dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Pada akhir Juli 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat berada di kisaran 145,3 miliar dolar AS.
Angka tersebut terpaut jauh di bawah cadangan devisa Singapura yang mencapai sekitar 426,2 miliar dolar AS. Sementara itu, Thailand mengantongi cadangan devisa sekitar 279,2 miliar dolar AS atau hampir dua kali lipat dari posisi Indonesia. Adapun Malaysia, dengan jumlah populasi yang lebih sedikit, mencatatkan cadangan devisa sekitar 132,6 miliar dolar AS.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Keterbatasan Kebijakan Suku Bunga
Kondisi sektor eksternal yang belum kompetitif dinilai akan membatasi efektivitas bauran kebijakan moneter dalam meredam tekanan kurs. Didik mengingatkan bahwa tanpa penguatan daya saing ekspor dan fondasi devisa dari luar negeri, stabilitas mata uang tidak bisa hanya dibebankan kepada otoritas moneter.
Dalam proyeksi lima tahun ke depan, Bank Indonesia dinilai akan menghadapi keterbatasan dalam menjaga rupiah agar tetap kuat dan stabil jika hanya mengandalkan instrumen penyesuaian suku bunga tanpa diimbangi perbaikan fundamental di sektor eksternal.






