Tambang Grasberg yang berlokasi di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, merupakan salah satu aset tambang tembaga dan emas paling strategis di dunia. Operasional tambang kelas dunia ini dikelola langsung oleh PT Freeport Indonesia (PTFI). Sebagai salah satu pilar industri pertambangan, PTFI memegang peranan krusial karena tercatat sebagai produsen tembaga nomor dua terbesar di dunia sekaligus menjadi produsen emas nomor satu terbesar di dunia. Keberadaan tambang ini menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat penting dalam rantai pasok komoditas mineral internasional.
Secara historis, tambang Grasberg memiliki rekam jejak operasional yang masif. Saat metode tambang terbuka (open pit) masih beroperasi, tambang Grasberg tercatat sebagai tambang open pit tembaga terbesar nomor dua di dunia. Namun, penambangan terbuka di Grasberg telah dihentikan sejak akhir tahun 2019. Setelah penghentian tambang terbuka tersebut, seluruh kegiatan operasional pertambangan PTFI kini sepenuhnya telah beralih menuju sistem tambang bawah tanah.
Dinamika operasional di tambang Grasberg terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap pasar mineral internasional. Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menyebutkan bahwa setiap gangguan operasional yang terjadi di Grasberg berdampak langsung pada naik dan turunnya harga komoditas di pasar internasional. Besarnya kontribusi produksi membuat pasokan dari Grasberg selalu menjadi perhatian utama dalam perdagangan komoditas global.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Dampak nyata dari keterkaitan operasional terhadap harga dunia tercermin dari peristiwa yang terjadi pada September 2025 lalu. Pada saat itu, terjadi insiden tanah longsor di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC). Kejadian longsor tersebut berdampak pada dihentikannya operasional tambang secara sementara. Imbas dari penghentian sementara operasional tambang Freeport ini, harga komoditas tembaga di pasar global langsung terkerek naik karena terjadinya kekurangan pasokan.
Menghadapi tantangan operasional yang ada, PTFI saat ini tengah berfokus untuk melakukan pemulihan kapasitas produksi ke level 100 persen. Di samping upaya pemulihan tersebut, perusahaan juga sedang fokus pada pengembangan tambang bawah tanah baru, yakni Blok Kucing Liar. Proyek pengembangan Blok Kucing Liar ini memerlukan nilai investasi total yang mencapai Rp 72 triliun.
MNK Rokan, Tonggak Baru Pertamina Kembangkan Migas Non Konvensional

Pengembangan Blok Kucing Liar diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas. Hasil produksi dari blok baru tersebut ditargetkan guna menjaga level produksi tetap stabil di angka 240.000 ton bijih per hari. Selain kegiatan penambangan di Papua, PTFI juga memperkuat rantai hilirisasi dengan mengoperasikan fasilitas pemurnian tembaga single line terbesar di dunia yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur.
Mengingat besarnya skala investasi dan target jangka panjang operasional tambang tersebut, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menekankan pentingnya kepastian terkait perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PTFI setelah tahun 2041. Kepastian perpanjangan izin IUPK pasca-2041 dinilai sangat penting untuk menjamin keberlanjutan investasi besar seperti pengembangan Blok Kucing Liar serta menjaga kelangsungan produksi tambang Grasberg.






