Militer Korea Selatan mengerahkan armada jet tempur Angkatan Udara setelah sejumlah pesawat militer Rusia memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) di atas perairan Laut Timur atau Laut Jepang. Langkah taktis ini diambil sebagai tindakan pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan insiden di udara.
Kementerian Pertahanan Seoul mengonfirmasi bahwa armada Rusia terdeteksi radar sebelum mendekati area tersebut, lalu terpantau masuk dan meninggalkan wilayah ADIZ. Otoritas pertahanan Korea Selatan menegaskan bahwa pesawat militer Rusia tersebut tidak sampai melanggar wilayah udara kedaulatan mutlak negara.
Secara ketentuan keamanan militer, ADIZ merupakan zona penyangga yang ditetapkan suatu negara untuk memantau pergerakan dan mewajibkan pesawat asing mengidentifikasi diri demi pertahanan nasional. Kawasan ini berbeda dengan ruang udara kedaulatan, dan hingga kini belum ada instrumen hukum internasional mengikat yang mewajibkan pesawat militer asing memberi pemberitahuan sebelum melintas, meski langkah tersebut lazim dilakukan sebagai prosedur pencegahan konflik.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Rentetan Manuver dan Hubungan Kawasan yang Menegang
Peristiwa penerobosan ini tercatat sebagai manuver udara kedua yang dilakukan pihak Rusia dalam rentang waktu beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, pada akhir Juni lalu, ketegangan serupa sempat terjadi ketika lebih dari 10 pesawat militer gabungan milik Rusia dan China menerobos masuk ke dalam ADIZ Korea Selatan.
Kala itu, Kementerian Pertahanan Beijing menyatakan bahwa pergerakan armadanya bersama Rusia merupakan bagian dari patroli udara strategis gabungan di atas Laut Jepang, Laut China Timur, hingga Samudra Pasifik bagian barat. Kementerian Pertahanan Rusia juga menegaskan operasi penerbangan tersebut sekadar wujud kerja sama militer rutin antarkedua negara dan tidak diarahkan kepada pihak ketiga.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Kendati demikian, pemerintah Korea Selatan melayangkan protes diplomatik resmi kepada Moskow dan Beijing serta mendesak adanya langkah nyata agar aksi penerobosan tidak berulang. Friksi militer di ruang udara ini terjadi di tengah memburuknya relasi diplomatik antara Seoul dan Moskow, menyusul keputusan Korea Selatan menerapkan sanksi ekonomi terhadap Rusia terkait konflik di Ukraina, serta meningkatnya hubungan kerja sama militer Rusia dengan Korea Utara.






