Kisah kesederhanaan mantan pejabat publik kembali menjadi perbincangan. Saifuddin Zuhri, Menteri Agama Republik Indonesia ke-10, pernah menjalani profesi sebagai pedagang beras di Pasar Glodok pada era 1980-an tanpa sepengetahuan keluarganya.
Rutinitas berniaga tersebut dijalankan Saifuddin hampir setiap hari selepas menunaikan salat Dhuha sekitar pukul 09.00 WIB. Mengendarai mobilnya sendiri, tokoh yang pernah memimpin kementerian tersebut mengangkut karung-karung beras langsung menuju lapak dagangannya di Glodok.
Terbongkar Tanpa Sengaja oleh Sang Anak
Aktivitas berdagang ini sengaja dirahasiakan rapat-rapat dari lingkungan keluarga. Rahasia tersebut baru terungkap ketika salah seorang putranya memergoki sang ayah sedang melayani pembeli secara langsung di Pasar Glodok. Penemuan itu sontak mengejutkan pihak keluarga yang tidak menyangka mantan pejabat tinggi negara memilih kembali ke pasar rakyat untuk mencari nafkah.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Saifuddin Zuhri menjabat sebagai Menteri Agama RI sejak dilantik pada 2 Maret 1962 hingga purna tugas pada 1967. Selepas turun dari jabatan menteri, ia sempat melanjutkan kiprah di parlemen sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU) dan kembali terpilih sebagai anggota DPR dari Pemilu 1971. Ia juga merupakan ayah dari Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama pada era Kabinet Kerja.
Rekam Jejak Hidup Sederhana dan Mandiri
Bekerja mandiri untuk menyambung hidup bukan hal baru bagi Saifuddin. Jauh sebelum berada di lingkaran pemerintahan, tepatnya pada 1942 ketika anak pertamanya lahir, ia sempat menyambung nafkah dengan menjual aneka barang loak, pakaian bekas, hingga rokok.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Prinsip hidup bersahaja juga tercermin saat ia masih memangku jabatan negara. Saifuddin menolak fasilitas rumah dinas menteri dan memilih menetap di kediaman pribadinya di wilayah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia mencicil rumah di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru, yang kemudian dihibahkan secara cuma-cuma kepada Nahdlatul Ulama setelah cicilannya lunas.
Perjalanan hidup tokoh yang dikenal teguh menjaga kemandirian ini berakhir saat ia tutup usia pada 25 Februari 1986 setelah berjuang melawan sakit.






