Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya memberikan klarifikasi resmi terkait keberadaan ketua umumnya, Hercules, di tengah aksi demonstrasi yang berujung ricuh di sekitar kawasan Gedung DPR RI pada Kamis (27/8/2026) malam.
Divisi Hukum GRIB Jaya, Wilson Colling, membenarkan bahwa Hercules memang berada di lokasi saat peristiwa berlangsung. Namun, ia meluruskan narasi yang berkembang dan menegaskan bahwa kehadiran pimpinannya tersebut bukan untuk memperkeruh situasi atau memicu benturan fisik.
Penjelasan Kehadiran dan Seruan di Lapangan
Menurut keterangan Wilson, keberadaan Hercules di lapangan murni merupakan langkah persuasif guna memantau perkembangan situasi dan membantu menjaga kondusivitas lingkungan di sekitar lokasi kejadian.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Wilson juga menyatakan bahwa secara keorganisasian, GRIB Jaya tidak pernah mengeluarkan instruksi apa pun kepada anggotanya untuk ikut serta dalam aksi demonstrasi maupun kegiatan lain yang berkaitan dengan unjuk rasa tersebut.
Menanggapi rekaman video yang beredar luas di media sosial yang memperlihatkan seruan "pulang, pulang", pihak GRIB Jaya menjelaskan bahwa perkataan tersebut adalah imbauan spontan. Ucapan itu ditujukan agar masyarakat dan massa aksi membubarkan diri dan meninggalkan area secara tertib mengingat keadaan di lapangan sudah tidak lagi kondusif.
Dalam keterangannya, Wilson turut menyinggung ketentuan hukum yang berlaku, yakni Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Ia menegaskan bahwa hak bersuara merupakan hak konstitusional setiap warga negara yang pelaksanaannya tetap harus memperhatikan ketertiban umum.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Penyelidikan Polda Metro Jaya
Di sisi lain, pihak kepolisian terus bergerak menelusuri insiden kericuhan pada 27 Agustus tersebut. Polda Metro Jaya menyatakan tengah mendalami dugaan keterlibatan sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) dalam peristiwa kerusuhan malam itu.
Menanggapi ramainya perbincangan di ruang publik, Kombes Budi Hermanto dari Polda Metro Jaya mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dan kritis dalam menyaring informasi. Pihak kepolisian menyoroti banyaknya unggahan di media sosial yang memuat disinformasi, narasi provokatif, hingga kabar bohong terkait rentetan kejadian di lapangan.






