Tim SAR Gabungan mengerahkan 20 armada kapal pada hari ke-8 operasi pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang dilaporkan hilang di kawasan Selat Sunda saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pengerahan 20 kapal ini mencatatkan jumlah armada terbanyak sepanjang operasi berlangsung, meningkat dari 18 unit kapal yang diturunkan pada Senin (14/9).
Keputusan memperkuat kekuatan armada diambil setelah evaluasi operasi pencarian pada hari ketujuh masih belum membuahkan hasil atau nihil. Berdasarkan hasil rapat koordinasi bersama pemerintah daerah setempat, masa operasi pencarian resmi diperpanjang selama tiga hari ke depan.
Pembagian Sektor dan Rincian Armada
Pada operasi pencarian hari ke-8, luas area penyisiran mencapai 3.962 nautical mile persegi. Tim SAR membagi area pencarian yang luas tersebut ke dalam lima sektor terpisah guna memaksimalkan cakupan pemantauan di perairan Selat Sunda.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Sebanyak 20 unit alat utama (alut) laut yang terlibat dalam operasi gabungan ini meliputi:
- 3 unit KN SAR
- 2 unit Rigid Inflatable Boat (RIB) milik Basarnas
- 7 armada TNI Angkatan Laut (terdiri atas 4 KRI, 2 KAL, dan 1 RBB)
- 8 unit kapal patroli Polairud Polri
Pengaruh Cuaca dan Aktivitas Vulkanik
Setiap pergerakan dan rencana pencarian Tim SAR disusun berdasarkan analisis data teknis yang dirilis oleh BMKG dan PVMBG. Al Amrad menjelaskan bahwa perhitungan sektor pencarian sangat bergantung pada dinamika cuaca maritim dan perkembangan vulkanik di lapangan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Berdasarkan pantauan BMKG, kondisi cuaca di kawasan perairan Selat Sunda terpantau berawan dengan ketinggian gelombang laut berkisar antara 0,5 hingga 2,5 meter yang bergerak ke arah timur laut. Kecepatan angin tercatat berada di rentang 5 sampai 20 knot bertiup dari arah tenggara menuju selatan.
Sementara itu, pengamatan visual terhadap Gunung Anak Krakatau menunjukkan puncak gunung tertutup kabut tebal sehingga kepulan asap kawah tidak dapat teramati secara jelas. Dari sisi kegempaan, pos pemantauan geologi mendeteksi aktivitas gempa vulkanik dangkal yang disertai getaran tremor secara terus-menerus.






