Fenomena langit Kota Pontianak, Kalimantan Barat, yang berubah warna menjadi kuning pekat kecokelatan mendapat penjelasan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi visual atmosfer yang tidak lazim tersebut dipicu oleh tebalnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan tersebut.
Ahli Meteorologi dan Prakirawan Cuaca BMKG, Adinda Dara Vahada, menerangkan bahwa penampakan langit Pontianak yang menguning berkaitan langsung dengan keberadaan asap tebal serta tingginya konsentrasi partikulat di atmosfer. Partikel polusi udara dan asap karhutla tersebut memengaruhi mekanisme hamburan cahaya matahari di udara.
Akibat proses hamburan tersebut, cahaya matahari yang menembus lapisan atmosfer dan mencapai permukaan bumi menjadi lebih redup dengan rona kekuningan hingga jingga. Kondisi ini membuat suasana pada siang hari terlihat temaram menyerupai waktu menjelang sore hari. Tingginya polutan ini juga terkonfirmasi melalui pemantauan PM2.5 di beberapa wilayah Kalimantan Barat yang mencatat konsentrasi partikulat cukup tinggi.
Sopir Travel Ditembak Mati KKB di Wamena, Pelaku Diburu

Penurunan Jarak Pandang dan Asap Lintas Batas
Keberadaan asap pekat karhutla berdampak langsung pada berkurangnya jarak pandang (visibilitas) di wilayah udara Kalimantan Barat. Hasil pengamatan di Stasiun Meteorologi Maritim Dwikora Pontianak pada pukul 10.00 WIB mencatat kondisi udara dalam status kabur dengan jarak pandang terbatas sekitar 1 kilometer.
Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9 BMKG pada pukul 13.00 WIB, sebaran asap terpantau meluas di wilayah Kalimantan Barat dengan arah pergerakan dominan menuju barat laut hingga utara. Pantauan tersebut sekaligus mengonfirmasi terjadinya kabut asap lintas batas (transboundary haze) dari Kalimantan Barat yang bergerak mengarah ke wilayah Sarawak, Malaysia.
Truk Diduga Alami Rem Blong Tabrak Mobil Parkir dan Dua Bangunan di Jalur Puncak Bogor

Mengenai dinamika perubahan visibilitas udara di kawasan tersebut, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani turut membagikan data pemantauan jarak pandang terkini di Kalimantan Barat guna mendukung mitigasi dampak kabut asap bagi mobilitas dan keselamatan masyarakat.






