Ketegangan di jalur pelayaran internasional kembali memuncak di Selat Bab Al Mandab, Yaman, setelah kelompok Houthi dilaporkan berhasil merebut kendali penuh atas Pulau Perim atau Mayyun pada Jumat (11/9/2026). Penguasaan pulau strategis di perairan penghubung Laut Merah dan Teluk Aden ini mendorong pemerintah Arab Saudi bergerak cepat meminta dukungan militer langsung dari Amerika Serikat.
Perahu-perahu pengangkut petempur bersenjata Houthi merapat ke Pulau Mayyun menyusul penarikan mundur pasukan pemerintah Yaman sehari sebelumnya. Setelah menuntaskan pengambilalihan seluruh kawasan Bab Al Mandab dan pulau tersebut, kelompok Houthi langsung menempatkan personel bersenjata di sepanjang garis pantai dan menggelar patroli menggunakan kendaraan militer.
Permintaan Bantuan Militer ke Washington
Menghadapi pergeseran kendali di perairan strategis tersebut, Riyadh mengambil langkah diplomasi intensif. Tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengungkapkan bahwa pemerintah Arab Saudi melayangkan permintaan bantuan militer kepada Presiden AS Donald Trump pada Kamis (10/9/2026).
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Pada hari yang sama, Donald Trump dilaporkan menggelar setidaknya dua kali percakapan telepon dengan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MbS). Namun, Trump menolak usulan agar militer AS melancarkan serangan langsung terhadap posisi kelompok Houthi.
Sebagai alternatif, Washington menawarkan dukungan berupa pertukaran informasi intelijen strategis dan penetapan target serangan kepada militer Arab Saudi.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Manuver Komando Militer AS
Hingga saat ini, pihak Gedung Putih maupun kantor media pemerintah Arab Saudi belum memberikan konfirmasi resmi mengenai isi komunikasi antara Trump dan Mohammed bin Salman.
Di tengah dinamika tersebut, koordinasi militer kedua negara tetap berlangsung di level tinggi. Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, dilaporkan telah mendarat di Arab Saudi pada Kamis (10/9/2026) guna menggelar serangkaian pembicaraan khusus terkait keamanan maritim regional.






