Sekitar 40.000 buruh Hyundai Motor menggelar aksi mogok kerja penuh pertama mereka dalam kurun satu dekade pada Jumat, 21 Agustus 2026 di Korea Selatan. Aksi terkoordinasi ini melibatkan pekerja dari Hyundai Motor, afiliasinya Kia Corp, hingga mitra pemasok komponen. Di luar kantor pusat Hyundai di Seoul, sekitar 3.000 pengunjuk rasa berkumpul mengenakan ikat kepala merah untuk menyuarakan aspirasi buruh.
Apa latar belakang utama di balik aksi mogok kerja massal ini?
Aksi mogok meletus menyusul kebuntuan panjang dalam perundingan upah dan ketenagakerjaan antara serikat pekerja dan pihak manajemen. Buruh menyuarakan kekhawatiran besar terhadap gelombang otomatisasi robot serta adopsi kecerdasan buatan (AI) yang mengancam kepastian posisi kerja mereka. Sentimen keresahan buruh di Korea Selatan sendiri semakin menguat seiring terpilihnya Presiden liberal yang pro-buruh, Lee Jae Myung, pada tahun sebelumnya.
Apa saja tuntutan spesifik yang diajukan oleh serikat pekerja Hyundai?
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Tuntutan utama serikat buruh mencakup perlindungan ketenagakerjaan dari ancaman kecerdasan buatan, perpanjangan usia pensiun melampaui batas saat ini yang berada di angka 60 tahun, serta kenaikan bonus tahunan menjadi 800% dari gaji pokok bulanan dibanding sebelumnya 750%. Selain itu, demonstran mendesak izin penyesuaian kenaikan harga bagi pemasok suku cadang. Pemimpin Serikat Pekerja Hyundai, Lee Jong Cheol, menyoroti bahwa tenaga kerja berpengalaman yang telah membangun Hyundai dan Kia selama 35 hingga 40 tahun justru mulai didorong ke posisi pekerja kontrak.
Mengapa kecerdasan buatan dan robotika menjadi kekhawatiran nyata buruh?
Kekhawatiran buruh berakar dari kepemilikan Hyundai atas produsen robot humanoid Boston Dynamics. Manajemen Hyundai telah menyusun rencana untuk menerjunkan armada robot humanoid di fasilitas pabrik Georgia, Amerika Serikat, mulai tahun 2028, sebelum memperluas penerapannya secara bertahap ke seluruh jaringan manufaktur global. Serikat pekerja menuntut jaminan agar gelombang otomatisasi tersebut tidak memangkas tenaga kerja manusia secara sepihak.
Berapa besar kerugian operasional dan dampak finansial yang dialami Hyundai?
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Sebelum pemogokan penuh berlangsung, rangkaian aksi mogok parsial sejak akhir Juli telah melumpuhkan proses manufaktur sebanyak 55.200 unit kendaraan. Kantor Berita Yonhap memperkirakan kerugian akibat gangguan tersebut menembus angka 2,3 triliun won atau berkisar Rp 29,41 triliun. Tekanan operasional ini terjadi bertepatan dengan proyeksi internal Hyundai pada Juli lalu yang memperkirakan target penjualan global tahunan bakal meleset akibat penurunan penjualan domestik di Korea Selatan dan sengitnya persaingan mobil asal China di pasar Eropa.
Bagaimana langkah serikat pekerja selanjutnya?
Juru Bicara Serikat Pekerja Hyundai Motor, Kim Jin-wook, menegaskan bahwa serikat tetap membuka pintu dialog untuk melanjutkan perundingan upah. Namun, serikat buruh memastikan akan membahas rencana aksi mogok lanjutan jika jajaran manajemen tidak kunjung memberikan usulan yang dinilai berwawasan ke depan dan melindungi hak-hak pekerja.






