Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak variatif pada perdagangan Senin (31/8/2026). Pelaku pasar mencermati dinamika sentimen global dan domestik yang memengaruhi arah pergerakan pasar saham domestik.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka melemah 7,01 poin atau 0,11 persen ke level 6.511,11. Pelemahan serupa terjadi pada kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang terkoreksi 1,11 poin atau 0,17 persen ke posisi 640,71.
Proyeksi Level Teknis dan Support IHSG
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, memaparkan bahwa peluang penguatan indeks saham domestik masih terbuka selama posisinya mampu bertahan di atas batas tertentu. Jika IHSG mampu bertahan di atas area 6.357, indeks berpeluang kembali menguji area resistansi di 6.551 sebelum melanjutkan pergerakan ke level 6.635 dan 6.733.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Sebaliknya, kewaspadaan tetap dibutuhkan apabila tekanan jual kembali mendominasi. Jika aksi jual menembus level batas bawah (support) di posisi 6.454, pergerakan IHSG berisiko terkoreksi menuju area support kuat di rentang 6.385 hingga 6.377.
Pengaruh Dinamika Geopolitik dan Kebijakan The Fed
Dari pasar internasional, perhatian investor tertuju pada meredanya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait kekhawatiran gangguan pasokan minyak mentah. Pasar menilai situasi di Iran kini lebih terfokus pada instrumen sanksi dan tekanan ekonomi alih-alih ancaman langsung terhadap pasokan fisik energi.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Kelancaran arus pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz serta rencana pembangunan koridor Iran鈥揙man dinilai turut meredam premi risiko pada rantai pasok energi global.
Di sisi lain, pasar menghadapi sentimen penahan dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang menyebut inflasi belum menunjukkan perlambatan signifikan mengindikasikan proses normalisasi stabilitas harga memerlukan waktu lebih panjang, sehingga memicu kehati-hatian investor dalam mengambil keputusan transaksi.






