Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka bergerak menguat pada awal perdagangan hari Kamis, 30 Juli 2026. Indeks acuan saham domestik ini mencatatkan kenaikan sebesar 0,31% dan berada di level 6.110,28 pada awal sesi pertama. Posisi ini menunjukkan penguatan yang cukup stabil jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya yang berada di level 6.091,38. Pada menit-menit pertama perdagangan dibuka, nilai transaksi di bursa saham tercatat mencapai kisaran Rp 112,17 miliar dengan volume perdagangan yang mencapai 231,41 juta saham dan bergerak dalam 22.007 kali transaksi.
Data perdagangan BEI menunjukkan bahwa pergerakan saham di awal sesi ini didominasi oleh tren positif, yang sekaligus mengindikasikan bahwa tekanan jual mulai mereda. Sebanyak 234 saham terpantau mengalami penguatan harga, sementara 88 saham lainnya mengalami penurunan. Adapun sebanyak 274 saham tercatat bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. Di sisi lain, aktivitas ekonomi domestik pada hari yang sama juga diramaikan oleh pembukaan pameran otomotif GIIAS 2026 di ICE BSD. Ajang berskala besar ini diharapkan mampu mendongkrak nilai transaksi, mendorong aktivitas manufaktur, serta menopang konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi domestik pada periode semester II 2026.
Meskipun pasar saham domestik dibuka menguat, kondisi pasar keuangan secara global saat ini tengah dihadapkan pada tekanan berat akibat kombinasi sentimen negatif geopolitik, arah kebijakan bank sentral yang agresif, serta lonjakan harga komoditas energi. Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mengalami eskalasi tajam setelah sebuah kapal tanker gas milik Amerika Serikat dilaporkan dihantam oleh drone di wilayah Mesir. Insiden ini disusul oleh aksi saling serang menggunakan rudal yang melibatkan Iran, militer Amerika Serikat, dan Arab Saudi, yang memicu kekhawatiran akan terjadinya gangguan pasokan energi global yang serius.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Sebagai dampak langsung dari memanasnya perang tersebut, harga komoditas energi dunia melonjak secara signifikan. Harga minyak mentah jenis Brent terbang 7,9% menjadi US$ 90,74 per barel. Sejalan dengan hal itu, harga minyak mentah jenis WTI juga mengalami kenaikan 6,56% hingga mencapai level US$ 84,46 per barel. Lonjakan harga energi ini dinilai oleh para pelaku pasar berisiko tinggi memicu gelombang inflasi baru di berbagai negara.
Pergerakan positif IHSG di awal sesi ini terpantau kontras dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik yang justru dibuka bervariasi dan cenderung melemah. Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat turun 0,25%, dan indeks Topix melemah 0,59%. Tren koreksi serupa terjadi di bursa saham Korea Selatan, di mana indeks Kosdaq turun 0,73%, meskipun indeks Kospi masih mampu bergerak menguat 0,89% setelah sempat anjlok pada hari sebelumnya. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 di Australia juga mencatatkan pelemahan 0,26%.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Di luar faktor komoditas dan geopolitik, pergerakan pasar keuangan juga dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga global yang ketat. Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, memutuskan untuk menahan tingkat suku bunga acuannya di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Keputusan ini diiringi dengan sinyal hawkish yang kuat serta perbedaan suara pejabat terluas sejak tahun 2016. Langkah The Fed tersebut memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 30 tahun sebesar 10 basis poin ke atas level 5,2%, yang merupakan level tertingginya sejak tahun 2007. Di kawasan Eropa, fokus pasar juga tertuju pada rapat Bank of England (BoE) serta rilis data produk domestik bruto dan inflasi yang turut memperkuat sentimen penghindaran risiko di pasar internasional.
Di sektor korporasi, kinerja emiten teknologi raksasa di Amerika Serikat menunjukkan hasil yang kontras akibat perbedaan strategi alokasi investasi. Saham Meta Platforms anjlok 7% setelah merilis proyeksi pendapatan yang lebih lemah dari ekspektasi dan terbebani oleh tingginya biaya investasi pada teknologi mutakhir. Sebaliknya, saham Microsoft melonjak 8% yang didorong oleh pertumbuhan kuat pada lini bisnis komputasi awan Azure. Ke depan, fokus pelaku pasar global akan tertuju pada rilis data makroekonomi penting Amerika Serikat, termasuk klaim pengangguran mingguan, estimasi awal produk domestik bruto kuartal II, serta data inflasi PCE bulan Juni yang diproyeksikan tumbuh 3,7% secara tahunan. Pasar juga menantikan rilis kinerja keuangan dari perusahaan besar lainnya seperti Bristol-Myers Squibb, Amazon, Apple, dan Coinbase.






