Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat naik hingga 1 persen pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Penguatan mendadak ini didorong oleh reli serentak saham-saham perbankan berkapitalisasi besar serta derasnya arus masuk modal asing di lantai bursa.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga sekitar pukul 13.52 WIB, IHSG terapresiasi 65,07 poin atau 1% ke posisi 6.590,55. Sepanjang perdagangan berlangsung, indeks bergerak aktif dalam rentang 6.535,80 hingga 6.592,74.
Saham Perbankan dan Komoditas Jadi Penopang Utama
Saham-saham sektor perbankan tampil sebagai motor utama penggerak indeks. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang sekitar 13,98 poin terhadap IHSG, membawa harga sahamnya ke level Rp3.350.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusul dengan kontribusi sebesar 9,39 poin pada level harga Rp6.575. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memberikan sumbangan 7,82 poin dengan harga saham bertengger di Rp4.320. Sejak pembukaan sesi pagi, saham-saham perbankan utama seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA kompak bergerak di zona hijau.
Selain perbankan, dorongan indeks juga datang dari saham berbasis komoditas dan industri. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyumbangkan 5,47 poin, disusul PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar 4,42 poin, dan PT Astra International Tbk (ASII) yang menyumbang 3,47 poin.
Aliran Dana Asing dan Sentimen Data Ekonomi
Penguatan pasar modal Indonesia pada hari ini turut diperkuat oleh tingginya minat investor asing. Pada perdagangan sesi I saja, investor asing membukukan aksi beli bersih (net buy) mencapai Rp972,64 miliar.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Secara sektoral, penguatan dipimpin oleh sektor utilitas yang naik 1,92%, disusul konsumer non-primer sebesar 1,90%, serta sektor finansial yang menguat 1,56%. Sektor energi tercatat naik 1,36% dan sektor industri bertambah 0,86%. Sebaliknya, tekanan jual masih terlihat di sektor teknologi yang mengalami pelemahan 2,15%.
Aktivitas beli di pasar modal ini berlangsung seiring sikap investor yang terus mencermati sejumlah rilis data domestik terbaru, meliputi realisasi inflasi periode Agustus, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur, dan neraca perdagangan, serta perkembangan arah sentimen pasar global.






