Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menggelar uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap calon tunggal Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman, pada Rabu (26/8/2026). Dalam sesi pemaparan tersebut, Aida menjabarkan arah kepemimpinan bank sentral ke depan yang dirumuskan ke dalam tujuh misi strategis.
Aida menegaskan komitmennya untuk mempertahankan dan memperkuat visi Bank Indonesia sebagai bank sentral terbaik di kelompok negara berkembang (emerging economies). Arah kebijakan tersebut ditujukan guna memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. Untuk mewujudkan sasaran ini, ia menekankan empat prinsip operasional utama bagi BI, yakni adaptif, akseleratif, inovatif, dan kredibel dalam merespons dinamika perekonomian.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

7 Misi Strategis untuk Penguatan Perekonomian
Dalam paparannya di hadapan parlemen, Aida merinci tujuh misi utama yang menjadi fondasi kerjanya jika terpilih memimpin posisi Deputi Gubernur Senior:
- Kalibrasi bauran kebijakan BI: Mengoptimalkan paduan instrumen moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.
- Reformasi data: Menata dan menyelaraskan infrastruktur data BI agar sesuai dengan arsitektur data global.
- Perluasan sumber pembiayaan: Mendorong diversifikasi saluran pendanaan untuk menopang kebutuhan ekonomi nasional.
- Kebijakan PUVA: Memperkuat tata kelola serta implementasi kebijakan instrumen valuta asing dan pasar keuangan.
- Inovasi sistem pembayaran: Melanjutkan pengembangan digitalisasi transaksi yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
- Pengembangan UMKM: Mengakselerasi pemberdayaan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai pilar ekonomi riil.
- Bauran kebijakan kelembagaan: Memperkokoh kapasitas institusi dan tata kelola internal bank sentral.
Rekam Jejak Digitalisasi dan Sinergi Kebijakan
Menyoroti aspek sistem pembayaran, Aida mencontohkan keberhasilan inisiatif Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang diluncurkan sejak 2019. Inovasi digital tersebut terbukti mampu menopang aktivitas transaksi masyarakat saat masa pembatasan interaksi fisik selama pandemi Covid-19, sekaligus menjadi bukti pentingnya kebijakan pembayaran yang berorientasi solusi.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Selain inovasi domestik, Aida menggarisbawahi faktor penting keberhasilan pelaksanaan mandat bank sentral, yakni soliditas kerja sama antarlembaga. Sinergi yang terkoordinasi erat antara Bank Indonesia di sisi moneter dan pemerintah di sisi fiskal dipandang sebagai pilar utama stabilitas ekonomi, dengan syarat didukung oleh komunikasi kebijakan yang transparan dan efektif.






