Arus penanaman modal asing (PMA) ke kawasan Asia Tenggara terus menunjukkan tren peningkatan signifikan. Jika pada 2024 kawasan ini menghimpun investasi sekitar 225 miliar dolar AS, realisasinya melonjak hingga mendekati 250 miliar dolar AS pada 2025. Capaian tersebut bahkan melampaui arus PMA ke Asia Timur pada periode yang sama, yang tercatat berada di kisaran 245 miliar dolar AS.
Peningkatan minat pemodal global ke Asia Tenggara dipicu oleh restrukturisasi rantai pasok dunia, ekspansi sektor manufaktur, serta daya tarik pasar ASEAN yang kian berkembang. Kondisi pergeseran rantai pasok internasional, khususnya fenomena diversifikasi manufaktur seperti strategi China+1 dan Taiwan+1, memberikan momentum bagi negara-negara berkembang di kawasan untuk mengambil peran lebih besar.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Dalam forum bertajuk The Indonesia Equation: Risks, Returns and the Road to 2027 yang digelar Bank DBS Indonesia di Jakarta pada Kamis (10/9/2026), DBS Group Research memaparkan bahwa pergeseran strategi manufaktur global tersebut membuka peluang luas bagi Indonesia. Posisi Indonesia dinilai strategis untuk memperkuat diri sebagai basis industri baru, termasuk dalam ekosistem manufaktur bernilai tambah tinggi seperti kendaraan listrik.
Agar peluang aliran modal tersebut dapat terserap optimal, daya saing nasional bertumpu pada kemampuan menggaet investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, serta memperluas penetrasi ekonomi digital. Selain itu, kepastian iklim usaha yang didukung stabilitas kebijakan dan makroekonomi menjadi prasyarat penting bagi keputusan penanaman modal jangka panjang.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Di dalam negeri, realisasi investasi pada semester pertama 2026 menunjukkan performa terjaga dengan pencapaian mendekati 50 persen dari target pertumbuhan tahunan 7,2 persen secara year-on-year. Guna menjaga laju tersebut, pemerintah terus menggulirkan reformasi regulasi, menyediakan layanan perizinan terintegrasi secara menyeluruh (end-to-end), menyusun peta jalan sektor prioritas, serta menyederhanakan perizinan berusaha lewat OSS Versi 2.






