Teheran — Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyerukan penguatan produksi dalam negeri serta pengurangan ketergantungan ekonomi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Seruan ini dirilis di tengah gelombang tekanan ekonomi baru akibat sanksi dari Washington dan pelemahan tajam mata uang domestik.
Nilai tukar mata uang Rial Iran di pasar bebas telah menembus rekor terendah, melewati angka 2.000.000 Rial per dolar AS. Menanggapi kondisi tersebut, Mojtaba mendesak pemerintah agar menempatkan kebijakan "ekonomi perlawanan" sebagai prioritas teratas dalam agenda kenegaraan.
Dalam pesan tertulis memperingati Pekan Pemerintah Iran, Mojtaba meminta jajaran birokrasi memberi perhatian khusus pada penanganan inflasi, penurunan tingkat pengangguran, pengendalian harga, hingga penataan pasar barang dan jasa. Tokoh yang belum muncul ke hadapan publik sejak menjabat pada awal Maret lalu ini juga menekankan pentingnya menjamin ketersediaan pasokan kebutuhan pokok masyarakat.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Mojtaba turut mengapresiasi kinerja pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian. Kabinet dinilai berhasil mengelola pasokan energi, menjaga kelancaran layanan dan distribusi logistik, serta memulihkan berbagai fasilitas penting yang rusak di tengah masa perang, blokade, dan sanksi luar negeri. Untuk mendukung ketahanan ekonomi jangka panjang, ia menginstruksikan percepatan penerapan teknologi serta inovasi yang dikembangkan generasi muda Iran pada sektor pertanian, industri, komunikasi, dan pendidikan. Di samping urusan ekonomi, Mojtaba menegaskan larangan terhadap segala bentuk tindakan yang dapat merusak kohesi sosial bangsa.
Eskalasi ekonomi antara kedua negara sebelumnya meningkat sejak Juli, ketika Departemen Keuangan AS memperluas sanksi yang menargetkan jaringan perkapalan dan transaksi keuangan Iran pascaserangan terhadap kapal-kapal internasional di Selat Hormuz.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Dari pihak Washington, dinamika konflik ini dipengaruhi oleh kepentingan domestik. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa upaya menurunkan harga minyak dan bensin bagi masyarakat Amerika Serikat kini menempati prioritas utama Washington dalam perselisihan dengan Iran, menggeser isu pencegahan senjata nuklir Teheran ke urutan kedua. Terkait situasi jalur pelayaran energi, Menteri Keuangan AS Scott Bessent sempat menyampaikan kepada CNBC pada 4 Agustus bahwa kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz berpeluang tercapai dalam hitungan hari.






