Indonesia bersiap mengambil kendali penuh atas pembentukan harga komoditas tambang strategis di pasar domestik dan global. Kehadiran bursa mineral mandiri ditargetkan mampu memutus ketergantungan penetapan harga dari luar negeri serta mengatasi celah perpajakan dan perdagangan yang merugikan negara, seperti praktik manipulasi faktur (under-invoicing) dan transfer pricing.
Komitmen penguatan kedaulatan komoditas tersebut ditegaskan oleh Sarjito setelah resmi dilantik sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pengambilan sumpah jabatan dipimpin oleh Ketua Mahkamah Agung Sunarto di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, pada Rabu (9/9/2026).
Sarjito menyoroti ironi yang dialami industri mineral nasional. Selama ini, Indonesia menempati posisi sebagai produsen nikel terbesar di dunia, namun penetapan harga jualnya justru ditentukan oleh yurisdiksi dan pihak-pihak di luar negeri. Melalui pembentukan bursa komoditas sendiri, seluruh transaksi mineral strategis diharapkan memiliki acuan harga yang transparan dan dapat dipantau langsung dari segi volume maupun nilainya.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Tahapan Regulasi dan Target Operasional 2027
Untuk merealisasikan bursa anyar tersebut, OJK tengah mematangkan kerangka regulasi dasar. Sarjito menyampaikan bahwa Peraturan OJK (POJK) awal mengenai BMKS memerlukan persetujuan dari DPR RI dan dijadwalkan diundangkan pada 17 September 2026, sebelum disusul regulasi turunan berikutnya.
Mengenai jenis komoditas dan mineral strategis yang akan masuk ke dalam bursa, keputusannya masih menunggu penerbitan Peraturan Presiden (Perpres). OJK mematok target peluncuran resmi bursa BMKS dapat terlaksana pada 1 Januari 2027.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Menjelang peluncuran dan sembari menanti rincian komoditas dari Perpres, OJK akan melakukan sosialisasi intensif kepada para pelaku usaha sektor terkait. Sarjito menambahkan bahwa penyelenggaraan bursa mineral dan komoditas strategis memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan operasional bursa saham biasa.






