Bagaimana sebuah akses jalan yang rusak dapat melumpuhkan perekonomian masyarakat di daerah pegunungan? Bagi masyarakat di pelosok Jambi, infrastruktur transportasi bukan sekadar fasilitas umum, melainkan urat nadi utama untuk menyambung hidup sehari-hari. Masalah nyata inilah yang sedang dihadapi oleh penduduk di wilayah Kabupaten Kerinci. Ketika akses satu-satunya mengalami kerusakan parah, seluruh kegiatan distribusi barang, penjualan hasil tani, hingga akses layanan dasar menjadi sangat terhambat. Masalah jalan rusak hambat aktivitas ekonomi warga desa terpencil di Kerinci ini menjadi persoalan krusial yang memerlukan perhatian mendalam karena berdampak langsung pada kesejahteraan warga.
Jalur yang menghubungkan Desa Sungai Sampun dengan Desa Renah Kasah di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, menjadi contoh nyata bagaimana keterbatasan infrastruktur menghambat mobilitas warga setempat. Jalan sepanjang kurang lebih lima kilometer ini merupakan satu-satunya rute transportasi darat yang dimiliki oleh warga Desa Renah Kasah. Melalui rute inilah mereka harus melintas setiap hari jika ingin menuju ke desa tetangga, menjangkau pasar tradisional untuk menjual hasil bumi, atau ketika membutuhkan pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat. Tanpa adanya jalan alternatif lain, setiap kerusakan kecil pada jalur ini langsung berdampak pada isolasi wilayah secara ekonomi dan sosial.
Kemendagri Dorong Daerah Temukan Penghambat Pertumbuhan Ekonomi

Kondisi geografis di lokasi tersebut juga memperumit keadaan. Jalur penghubung ini berada pada ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Selain berada di dataran tinggi yang berbukit, karakteristik tanah di sepanjang rute lima kilometer ini sebagian besar berupa daerah rawa. Kombinasi antara kontur pegunungan yang tinggi dan kondisi tanah rawa yang labil menciptakan tantangan besar, baik bagi mobilitas kendaraan warga sehari-hari maupun bagi upaya pembangunan dan pemeliharaan jalan oleh pihak berwenang. Tanah rawa yang basah cenderung mudah amblas, terutama saat curah hujan tinggi, sehingga struktur jalan cepat sekali mengalami kerusakan setelah diperbaiki.
Dampak ekonomi dari rusaknya jalur Sungai Sampun menuju Renah Kasah sangat dirasakan oleh para petani dan pedagang lokal yang bergantung pada kelancaran arus barang. Biaya transportasi logistik otomatis melonjak karena waktu tempuh yang menjadi jauh lebih lama serta risiko kerusakan kendaraan yang meningkat. Komoditas pertanian yang menjadi tumpuan hidup warga desa terpencil ini sering kali terlambat sampai ke tangan pembeli di pasar, yang pada akhirnya menurunkan kualitas produk dan harga jualnya. Di sisi lain, pasokan barang kebutuhan pokok dari luar desa juga menjadi tersendat, sehingga memicu kenaikan harga barang-barang kebutuhan sehari-hari di tingkat desa.
Kemendagri Minta Tim Pemantauan Identifikasi Akar Masalah Ekonomi Daerah

Hingga saat ini, pemeliharaan jalan di kawasan rawa berketinggian tinggi seperti ini memerlukan metode konstruksi khusus agar tidak mudah rusak kembali. Selama solusi jangka panjang berupa pengerasan jalan yang memadai belum sepenuhnya terealisasi, warga setempat terpaksa harus terus berjuang melewati jalur yang sulit demi menjaga roda perekonomian mereka tetap berputar. Pemahaman mengenai tantangan geografis berupa tanah rawa di dataran tinggi serta keterbatasan akses ini sangat penting bagi para pemangku kebijakan agar dapat merumuskan langkah perbaikan infrastruktur yang tepat sasaran dan tahan lama demi kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Kerinci.






