Kombinasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau memicu disrupsi berlapis pada sektor transportasi, mobilitas publik, dan operasional logistik nasional. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memproyeksikan potensi risiko kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla periode Januari hingga Agustus 2026 dapat menyentuh rentang Rp 39,29 triliun hingga Rp 123,1 triliun.
Kementerian Perhubungan mencatat penutupan setidaknya tujuh bandara pada Senin (7/9/2026) pagi, setelah satu bandara di kawasan Sumatera Selatan sempat kembali beroperasi. Penutupan tersebut mencakup Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta bersama enam bandara lainnya hingga pukul 18.00 WIB. Akibat gangguan sebaran abu vulkanik ini, lebih dari 270.000 penumpang terdampak pembatalan, penundaan, atau pengalihan rute pada sekitar 2.300 jadwal penerbangan.
Otoritas perhubungan menegaskan kepastian jadwal pemulihan operasional penerbangan secara normal masih bergantung penuh pada dinamika arah angin serta kondisi cuaca di ruang udara lintas wilayah terdampak.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Disrupsi Rantai Pasok dan Rutinitas Harian
Selain melumpuhkan konektivitas udara, dampak fisik kabut asap menekan pergerakan ekonomi di tingkat daerah. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah mengalihkan aktivitas belajar-mengajar ke sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) sejak 31 Agustus menyusul memburuknya kualitas udara yang mencapai level tidak sehat hingga berbahaya.
Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group Sana Ur Rehman memaparkan bahwa disrupsi fisik berskala luas di luar sektor keuangan berdampak langsung terhadap rantai pasok riil. Gangguan yang terjadi secara berulang berisiko mengacaukan jadwal pengiriman barang, menghambat perencanaan ekspor, hingga memengaruhi kredibilitas pembentukan harga komoditas di pasar.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Perlu dicatat, estimasi potensi kerugian dari CELIOS sebesar Rp 39,29 triliun hingga Rp 123,1 triliun merupakan kalkulasi proyeksi risiko ekonomi dan kesehatan akibat karhutla, bukan realisasi kerugian riil yang telah terkonfirmasi. Estimasi tersebut juga belum mengikutsertakan valuasi dampak gangguan operasional dari erupsi Gunung Anak Krakatau.






