Kementerian Kehutanan memastikan peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, berada di luar zona kritis habitat orangutan kalimantan. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan titik api tidak mengancam kelangsungan ruang hidup satwa dilindungi tersebut secara langsung di wilayah Berau.
Meskipun demikian, pengawasan ketat tetap diinstruksikan menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai fenomena El Nino yang tiba lebih cepat dengan skala intensitas yang sangat kuat. Pola iklim kering ekstrem ini umumnya berulang dalam siklus empat tahunan鈥攕eperti yang tercatat pada 2015, 2019, dan 2023鈥攕ehingga patroli berkala diwajibkan untuk mengamankan kawasan konservasi dari rambatan api.
Langkah Mitigasi Koridor Satwa dan Ancaman Kabut Asap
Untuk menjaga keberlanjutan ekosistem di Berau, Kementerian Kehutanan menyiapkan area preservasi koridor orangutan lanskap Keraitan. Inisiatif ini dikerjakan bersama Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam yang dikelola Conservation Action Network (CAN) beserta jajaran mitra konservasi lainnya.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kondisi berbeda dilaporkan terjadi di wilayah lain di Pulau Kalimantan. Sebaran titik api tercatat mulai mendekati kantong populasi satwa, termasuk kawasan sekitar Taman Nasional Sebangau dan Pulang Pisau di Kalimantan Tengah, serta sejumlah titik di Kalimantan Barat.
Selain kobaran api langsung, paparan asap tebal menjadi ancaman tidak langsung bagi pasokan pangan primata tersebut. Jamartin Sihite memaparkan bahwa kepekatan kabut asap mengganggu proses polinasi lebah dan vegetasi hutan. Berdasarkan data dari pusat penelitian di Tuanan, semakin lama durasi sebaran asap karhutla menyelimuti kawasan hutan, semakin rendah peluang tanaman untuk berbunga dan menghasilkan buah, yang pada akhirnya memicu krisis ketersediaan pakan bagi orangutan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Berdasarkan data Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016, populasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) diperkirakan tersisa sekitar 57.350 individu. Catatan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation menunjukkan populasi satwa endemik ini telah menyusut hingga 80 persen dalam kurun kurang dari 50 tahun, dari perkiraan awal mencapai 288.500 individu pada tahun 1973.






