Pemandangan berbeda tampak di peron lintas Jakarta Kota–Tanjung Priok (Pink Line). Rangkaian Kereta Bandara Soekarno-Hatta (Basoetta) resmi dioperasikan untuk melayani para pengguna Commuter Line di rute tersebut, membuat para komuter atau yang akrab disapa "anker" (anak kereta) takjub dengan fasilitas kabin yang mereka dapatkan.
Fasilitas kelas eksekutif yang biasanya beroperasi dengan tarif khusus Rp10.000 hingga Rp70.000 kini dapat dinikmati pengguna KRL Tanjung Priok. Meski menggunakan sarana kereta bandara, KAI Commuter (KCI) menegaskan bahwa ketentuan tarif, jadwal, dan sistem layanan di lintas Jakarta Kota–Tanjung Priok tetap normal seperti operasional KRL reguler tanpa pungutan tambahan.
Penyesuaian Sarana dan Penambahan Jadwal Rute Bogor
Pengalihan sarana Kereta Bandara ke rute Pink Line merupakan bagian dari strategi manajemen armada KAI Commuter. Rangkaian KRL reguler yang sebelumnya bertugas di lintas Tanjung Priok kini dialokasikan ke jalur Commuter Line Bogor guna menambah kapasitas angkut penumpang.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyatakan bahwa pergeseran rangkaian ini memungkinkan penambahan frekuensi di jalur padat tersebut. Dengan beroperasinya rangkaian tambahan, jumlah perjalanan Commuter Line Bogor bertambah sebanyak 13 perjalanan.
Langkah penambahan perjalanan di lintas Bogor diambil sebagai tindak lanjut evaluasi operasional. KCI mencatat adanya kepadatan penumpang yang cukup tinggi seusai kebijakan penyesuaian 17 perjalanan Commuter Line Bogor pada Senin (7/9).
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Jadwal Kereta Bandara Basoetta Dipangkas Sementara
Imbas dari pengoperasian armada ke jalur KRL reguler, jadwal layanan Commuter Line Basoetta mengalami pemangkasan sementara waktu. Terhitung mulai Kamis, 10 September 2026, volume perjalanan Kereta Bandara berkurang dari semula 70 perjalanan menjadi 52 perjalanan per hari.
Manajemen KAI Commuter terus memantau pergerakan arus penumpang di seluruh lintasan Jabodetabek selama masa penyesuaian sarana ini berlangsung, guna memastikan distribusi armada tetap seimbang antara kebutuhan rute bandara dan jalur padat komuter.






