Krisis moneter 1997–1998 menjadi salah satu periode paling bergejolak dalam riwayat perekonomian Indonesia. Berawal dari tekanan mata uang baht Thailand pada pertengahan 1997 yang merembet ke kawasan Asia, nilai tukar rupiah yang semula stabil di kisaran Rp2.000 per dolar Amerika Serikat (AS) merosot tajam ke level Rp10.000 hingga sempat menyentuh Rp16.000 per dolar AS.
Di tengah kepanikan pasar uang tersebut, Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut, putri sulung Presiden Soeharto, meluncurkan langkah darurat pada Januari 1998. Melalui Gerakan Cinta Rupiah (Getar), ia mengajak masyarakat melepas simpanan valuta asing mereka untuk membantu otoritas menahan kejatuhan mata uang nasional.
Mobilisasi Tokoh dan Pengusaha Menukar Valas
Gerakan ini dimulai dengan aksi penukaran valas di Gedung Bank Indonesia. Untuk memberi contoh langsung kepada publik, Mbak Tutut menukarkan dana pribadinya sebesar US$ 50.000 menjadi rupiah serta menyerahkan 2 kilogram emas pribadi kepada negara.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Langkah tersebut segera diikuti oleh sejumlah pejabat negara dan elite militer. Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad serta Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono tercatat melepas kepemilikan dolar mereka. Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu menjabat sebagai anggota MPR dari Fraksi ABRI, turut serta dengan menukarkan US$ 1.300 di Bank Indonesia. Dari aksi penukaran awal di bank sentral tersebut, terhimpun dana segar sekitar US$ 650.000.
Kalangan dunia usaha juga ikut ambil bagian. Pengusaha Aburizal Bakrie, The Ning King, dan Imam Taufik masing-masing menukar US$ 100.000 ke dalam rupiah. Pengusaha senior Sukamdani Sahid Gitosardjono melepaskan US$ 50.100 sekaligus menyerahkan 1 kilogram emas kepada pemerintah.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Keterbatasan Dana di Tengah Krisis Devisa
Meskipun mendapat sorotan luas dari media dan kalangan pejabat, efektivitas gerakan Getar langsung menuai keraguan di lapangan. Total dana valas yang terkumpul dari inisiatif ini ditaksir tidak melebihi US$ 5 juta. Jumlah tersebut jauh di bawah kebutuhan devisa Indonesia yang saat itu mencapai miliaran dolar AS untuk menstabilkan neraca pembayaran dan pasar valas.
Kritik terbuka pun bermunculan. Pengusaha Fahmi Idris pada awal Februari 1998 menyatakan bahwa langkah sukarela semacam itu tidak akan menyelesaikan akar persoalan krisis. Nilai tukar rupiah tetap berfluktuasi liar di pasar valuta asing hingga krisis moneter berkembang menjadi krisis politik yang berujung pada berakhirnya pemerintahan Orde Baru pada 21 Mei 1998.






