Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyoroti peran krusial Chief Marketing Officer (CMO) di dalam struktur korporasi. Perkembangan teknologi dan semakin besarnya investasi pemasaran dinilai tidak secara otomatis mempermudah perusahaan untuk menciptakan pertumbuhan bisnis.
Menurut Shinta, pertanyaan mendasar yang kini harus dijawab oleh pelaku usaha bukan lagi sekadar seberapa besar modal yang diinvestasikan, melainkan seberapa besar pertumbuhan bertahap (incremental growth) dan nilai tambah yang dihasilkan dari setiap investasi tersebut. Kondisi ini menuntut kualitas pengambilan keputusan yang semakin matang dan presisi dari para pemimpin pemasaran.
Keunggulan Bersaing dan Alokasi Pertumbuhan
Keunggulan kompetitif suatu perusahaan tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang dikeluarkan. Shinta menegaskan bahwa daya saing entitas bisnis sangat bergantung pada kemampuan membaca sinyal pasar secara cepat, mengolah dan menerjemahkan data menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti, mengalokasikan sumber daya dengan tepat, serta menautkan setiap aktivitas pemasaran dengan hasil bisnis yang terukur.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Sejalan dengan hal tersebut, jajaran manajemen pemasaran didorong untuk mengubah cara pandang dalam mengeksekusi strategi. Keputusan-keputusan terkait segmentasi pelanggan, pemilihan kanal, alokasi media, pembangunan merek (brand building), hingga pengelolaan portofolio produk harus diperlakukan sebagai langkah alokasi modal pertumbuhan (growth capital allocation), bukan semata-mata dipandang sebagai aktivitas pemasaran biasa.
Tuntutan terhadap Kinerja Pendapatan
Saat ini, tuntutan terhadap para pemimpin pemasaran kian meningkat, khususnya dalam menunjukkan kontribusi langsung terhadap perolehan pendapatan dan akselerasi pertumbuhan perusahaan. Menggambarkan tingginya ekspektasi tersebut, Shinta berkelakar bahwa akronim CMO kini kerap dimaknai menjadi "Chief Mana Sih Omsetnya".
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Untuk menjawab tuntutan dan tantangan pasar yang dinamis, perusahaan diharapkan dapat merespons kebutuhan pasar secara lebih gesit. Shinta mengingatkan pentingnya langkah korporasi untuk memperpendek jarak antara pemahaman mengenai data pelanggan dan tindakan nyata yang diberikan kepada pelanggan tersebut.






