tartilybanjary.id
BerandaEkonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan Publik
Beranda/Keuangan Digital

Laba Superbank Melonjak di Semester I-2026, Defisit Saldo Laba Tersisa Rp663,5 Miliar

Sri NugrohoDiterbitkan 30 Jul 2026 - 18.26 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Laba Superbank Melonjak di Semester I-2026, Defisit Saldo Laba Tersisa Rp663,5 Miliar
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) membukukan kenaikan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, entitas bank digital yang dikenal dengan nama Superbank ini berhasil meraup laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp182,6 miliar. Lonjakan profitabilitas tersebut tercatat naik hampir sembilan kali lipat apabila dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Di tengah lonjakan laba bersih yang signifikan tersebut, Superbank masih dihadapkan pada beban saldo laba negatif yang berasal dari neraca keuangan masa lalu. Bank digital ini mencatatkan akumulasi defisit saldo laba sebesar Rp663,5 miliar yang merupakan dampak langsung dari kerugian pada tahun-tahun sebelumnya. Rincian laporan keuangan menunjukkan bahwa posisi saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya berada di angka defisit Rp663,52 miliar hingga akhir Juni 2026. Meski demikian, beban defisit tersebut telah menyusut sebesar 21,58% jika dibandingkan dengan posisi pada akhir 2025.

tartilybanjary.id

Copyright 2026 tartilybanjary.id - All Rights Reserved.

Kategori

Ekonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan PublikEkonomiEkonomi Digital & Bisnis
Ekonomi
Ekonomi Digital & Bisnis
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global
Populer

Peningkatan profitabilitas perseroan yang berada di bawah kepemimpinan Presiden Direktur Tigor M. Siahaan ini utamanya ditopang oleh kinerja pendapatan dari bisnis perbankan utama. Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) Superbank melesat sebesar 51,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga menyentuh angka Rp1,01 triliun. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih ini didorong oleh ekspansi penyaluran pembiayaan, di mana total kredit yang disalurkan Superbank tumbuh pesat 61% yoy hingga mencapai Rp13,4 triliun pada akhir semester I-2026.

Baca Juga

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

Langkah ekspansi pada sisi penyaluran pembiayaan tersebut didukung oleh pertumbuhan yang searah pada pos penghimpunan dana masyarakat. Superbank berhasil mencatatkan pemupukan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp15,9 triliun pada semester I-2026, mengalami lonjakan hingga 89,1% yoy jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Seiring dengan peningkatan DPK dan penyaluran kredit tersebut, total aset Superbank melonjak 81,5% yoy menjadi Rp27 triliun pada akhir Juni 2026.

Selain pertumbuhan dari sisi volume usaha dan pendapatan, efisiensi operasional perseroan juga mencatatkan peningkatan. Tingkat efisiensi yang diukur melalui rasio biaya terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) Superbank tercatat membaik menjadi 54,8%, dibandingkan dengan posisi 74,6% pada periode yang sama tahun lalu. Membaiknya rasio CIR tersebut berjalan searah dengan peningkatan rasio pengembalian ekuitas sebelum pajak atau pre-tax return on equity (ROE) yang merangkak naik menjadi 5,7% dari posisi 1,2%.

Baca Juga

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

Walaupun kinerja margin dan perolehan laba menunjukkan tren pemulihan, langkah ekspansi bisnis yang agresif tetap memicu tantangan dari sisi beban usaha. Ekspansi yang dilakukan Superbank turut menyebabkan kenaikan pada beban operasional perseroan serta mendorong peningkatan kebutuhan atas pencadangan kredit. Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada kemampuan perseroan dalam mengimbangi pertumbuhan kredit yang masif dengan kualitas aset dan profitabilitas yang berkelanjutan.

Ikuti tartilybanjary.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Kinerja KeuanganSuperbankSUPALaba Bank DigitalTigor M. Siahaan

Berita Terbaru Lainnya

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang UtamaMenyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif IndonesiaCara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPKMewaspadai Modus Ganjal ATM, Pelajaran dari Kasus Penyergapan di PamulangDampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani Tebu

Paling Banyak Dibaca

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

Ekonomi Digital

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

30 Jul 2026

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

Finance

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

30 Jul 2026

IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang Utama

Pasar Saham

IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang Utama

30 Jul 2026

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

Ekonomi Digital

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

30 Jul 2026

Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif Indonesia

Ekonomi Digital

Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif Indonesia

30 Jul 2026

Cara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPK

Regulasi & Kepatuhan

Cara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPK

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90Ekonomi Digital 路 30 Jul 2026
  2. 2Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026Finance 路 30 Jul 2026
  3. 3IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang UtamaPasar Saham 路 30 Jul 2026
  4. 4Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027Ekonomi Digital 路 30 Jul 2026
  5. 5Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif IndonesiaEkonomi Digital 路 30 Jul 2026
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap