Pemerintah Taiwan kembali menggelar latihan militer tahunan yang dikenal dengan nama Han Kuang. Latihan militer ini diadakan secara khusus untuk menghadapi potensi ancaman serangan dari China. Latihan Han Kuang kali ini dijadwalkan berlangsung selama 10 hari, setelah resmi dimulai sejak pekan lalu. Dalam latihan perang tersebut, militer Taiwan menyimulasikan berbagai skenario pertahanan, mulai dari bunyi sirene serangan udara, pengerahan kendaraan tempur seperti tank, hingga simulasi gangguan pada jaringan internet. Langkah ini diambil untuk memastikan kesiapsiagaan seluruh elemen pertahanan di pulau tersebut.
Pada hari Senin, 10 Agustus 2026, intensitas latihan meningkat dengan dilaksanakannya beberapa simulasi penting di berbagai wilayah. Salah satunya berlangsung di Yilan, yang terletak di wilayah timur laut Taiwan. Di lokasi tersebut, para prajurit militer berpartisipasi aktif dalam sebuah simulasi pertahanan yang bertujuan untuk mengamankan pelabuhan vital dari potensi serangan musuh. Pada hari yang sama, otoritas pertahanan Taiwan juga menggelar latihan serangan udara yang mencakup sebagian besar wilayah di bagian tengah pulau tersebut.
Selama latihan serangan udara berlangsung, sirene tanda bahaya terdengar meraung-raung di berbagai wilayah. Bunyi sirene ini diikuti dengan kepatuhan warga dan pemilik usaha terhadap prosedur keselamatan. Sebagai contoh, di sebuah pusat kuliner yang terletak di Taichung, pintu-pintu penutup toko segera diturunkan dan ditutup rapat setelah sirene serangan udara mulai berbunyi. Sebagai bagian dari persiapan pertahanan sipil yang rutin dilakukan, warga setempat diwajibkan untuk mengosongkan jalan-jalan protokol selama kurang lebih 30 menit ketika latihan serangan udara sedang berlangsung. Warga yang berada di luar ruangan diinstruksikan untuk segera mencari tempat berlindung, seperti di area parkir dalam ruangan, dengan cara berjongkok dan meletakkan tangan mereka di atas kepala.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Hal yang menarik dan berbeda dari latihan militer kali ini adalah adanya simulasi gangguan pada sektor teknologi informasi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah rangkaian latihan perang tahunan Han Kuang, pihak militer turut menyimulasikan gangguan komunikasi. Langkah simulasi ini dilakukan dengan cara memperlambat akses internet seluler di wilayah latihan. Simulasi pemotongan atau perlambatan akses internet seluler ini dirancang untuk melatih kesiapan taktis militer serta masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gangguan komunikasi total apabila konflik bersenjata benar-benar pecah.
Selain latihan pertahanan sipil dan simulasi digital, kekuatan tempur udara dan darat juga diuji secara langsung. Militer Taiwan menggelar latihan penembakan langsung di Kepulauan Penghu, sebuah wilayah kepulauan yang terletak di Selat Taiwan. Kepulauan Penghu memiliki nilai strategis yang sangat penting dalam peta pertahanan wilayah tersebut. Dalam latihan penembakan langsung ini, pasukan dari Komando Wilayah Pertahanan Pertama melakukan latihan tempur menjelang fajar di sebuah pantai di Penghu. Mereka melepaskan tembakan dengan menggunakan tank jenis M60A3, berbagai unit artileri, serta senjata antipesawat untuk menghalau simulasi serangan musuh.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Ketegangan yang melatari latihan militer Han Kuang ini tidak lepas dari sejarah panjang hubungan kedua belah pihak. Hubungan antara Taiwan dan China telah terpisah menjadi entitas yang berbeda sejak berakhirnya perang saudara pada tahun 1949. Kendati demikian, Beijing hingga saat ini terus mengklaim wilayah Taiwan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah kedaulatannya. Otoritas di Beijing bahkan tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan kekuatan militer atau kekerasan bersenjata demi mengambil alih dan menganeksasi pulau tersebut secara penuh ke dalam kekuasaan mereka. Oleh karena itu, latihan militer ini menjadi sangat krusial bagi kesiapan pertahanan Taiwan.






