Kondisi cuaca kering yang masih melanda sebagian besar wilayah Indonesia mendorong seruan evaluasi terhadap strategi penanganan kekeringan sektor pertanian. Anggota Komisi IV DPR RI Rina Saadah meminta pemerintah memperkuat manajemen tata kelola air secara menyeluruh dari hulu hingga hilir guna meminimalkan risiko gagal panen yang mengancam petani.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi pada September tercatat masih relatif kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Ancaman kekeringan ini diperkuat oleh lonjakan suhu ekstrem yang sempat menyentuh 37,9 derajat Celsius di Melawi, Kalimantan Barat, pada dasarian III Agustus. Selain itu, BMKG turut memantau sebaran titik panas yang cukup tinggi, mencakup 463 titik panas di Kalimantan dan 264 titik panas di Sumatera.
Menanggapi dinamika iklim tersebut, Rina Saadah menegaskan bahwa tolak ukur keberhasilan mitigasi krisis air di lahan pertanian tidak semestinya bertumpu pada indikator kuantitas alat bantu semata. Penyaluran bantuan pompa air harus dibarengi dengan efektivitas penyelamatan lahan pertanian secara nyata di lapangan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Menurutnya, keberhasilan penanganan krisis air harus diukur dari luasan hektare sawah yang benar-benar berhasil diselamatkan dari ancaman kekeringan, bukan sebatas jumlah unit pompa yang telah dibagikan kepada kelompok tani.
Penempatan dan distribusi mesin pompa air dinilai membutuhkan pemetaan teknis yang presisi. Rina menyoroti bahwa alokasi pompa harus mempertimbangkan ketersediaan sumber air setempat, kebutuhan spesifik komoditas tanaman, fase pertumbuhan vegetatif maupun generatif, hingga tingkat kerentanan lahan terhadap risiko puso.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Langkah penanganan kekeringan pertanian memerlukan integrasi sistemik dari hulu sampai ke hilir. Upaya ini mencakup perlindungan daerah tangkapan air, pemastian fungsi waduk atau embung dan jaringan irigasi, hingga penentuan skala prioritas bagi petak sawah yang harus segera diselamatkan.
Selain infrastruktur dan tata kelola pengairan, perlindungan ekonomi bagi petani menjadi aspek krusial selama musim kering. Rina menggarisbawahi pentingnya jaminan penyerapan hasil panen serta stabilitas harga jual gabah di tingkat produsen agar para petani tidak menanggung beban kerugian ganda akibat anomali iklim.






