Rencana penyesuaian tiket masuk Taman Margasatwa Ragunan (TMR) menjadi Rp10.000 telah disepakati oleh pihak pengelola bersama DPRD DKI Jakarta. Kenaikan tarif ini diharapkan tidak sekadar menambah pendapatan daerah, melainkan menjadi momentum pembenahan total terhadap fasilitas keamanan pengunjung dan kesejahteraan ribuan satwa di dalamnya.
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menyatakan bahwa penyesuaian tarif tiket masuk harus berbanding lurus dengan peningkatan mutu pengelolaan kebun binatang milik pemerintah provinsi tersebut. Politisi PDI Perjuangan sekaligus alumni PPRA Lemhannas RI Angkatan LXII ini menyoroti sejumlah aspek krusial, mulai dari faktor keselamatan pengunjung hingga pemenuhan kebutuhan dasar satwa koleksi Ragunan.
Faktor Keamanan dan Rasio Medis Satwa
Kenneth mengingatkan insiden yang terjadi beberapa waktu lalu, saat seorang anak terjatuh ke dalam area kandang gajah. Peristiwa tersebut dinilai sebagai sinyal penting bagi pengelola untuk memperketat standar pengamanan dan memperbarui pembatas kandang agar interaksi pengunjung tetap berada pada jarak aman.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Selain sarana fisik, rasio tenaga medis satwa turut menjadi perhatian legislatif. Saat ini, Taman Margasatwa Ragunan merawat lebih dari 2.200 ekor satwa, namun hanya didukung oleh delapan orang dokter hewan. Kondisi tersebut menuntut perhatian ekstra agar kesehatan satwa tetap terkontrol optimal.
Legislator juga mendorong inisiatif konservasi yang lebih aktif, termasuk skema pertukaran satwa antar-kebun binatang. Kenneth mencontohkan keberadaan satwa besar seperti gorila jantan di Ragunan yang hingga kini belum memiliki pasangan, sehingga membutuhkan langkah kerja sama konservasi terpadu.
Struktur Anggaran Operasional Ragunan
Kepala Taman Margasatwa Ragunan, drh. Endah Rumiyanti, menyambut baik persetujuan penyesuaian tarif tersebut guna menopang beban operasional tempat rekreasi edukatif ini. Kebutuhan anggaran untuk operasional TMR tercatat mencapai sekitar Rp160 miliar per tahun.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Selama ini, pendapatan mandiri yang berhasil dikumpulkan pihak pengelola berada di kisaran Rp30 miliar per tahun. Dengan struktur penerimaan tersebut, sekitar 70 persen pembiayaan operasional kebun binatang masih bergantung pada alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.
Kenaikan tarif masuk diharapkan dapat mengurangi porsi ketergantungan subsidi anggaran daerah sekaligus mempercepat berbagai program revitalisasi fasilitas publik dan perawatan satwa secara berkelanjutan.






