Perdagangan minyak internasional kerap kali menghadapi hambatan geopolitik dan sanksi ketat dari negara-negara barat. Meskipun demikian, sejumlah pelaku sektor energi memanfaatkan celah geografis dan teknologi keuangan untuk tetap menjalankan roda bisnis mereka. Salah satu titik krusial dalam aktivitas ini adalah wilayah Outer Port Limits atau EOPL Malaysia, sebuah kawasan perairan seluas 1.200 kilometer persegi yang berjarak sekitar 70 kilometer dari garis pantai dan masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif atau ZEE Malaysia. Memahami bagaimana mekanisme perdagangan minyak bayangan ini bekerja dapat memberikan wawasan penting mengenai jalur logistik laut dan sistem pembayaran alternatif yang digunakan di dekat wilayah perairan Indonesia.
Langkah awal dalam rantai perdagangan ini dimulai dari manipulasi navigasi kapal tanker di laut lepas. Kapal tanker minyak asal Iran, seperti Humanity, mematikan sistem identifikasi otomatis atau AIS saat melintas di kawasan perairan EOPL Malaysia di Laut China Selatan. Tindakan menonaktifkan AIS ini diduga kuat bertujuan untuk mempersiapkan pengalihan kargo minyak mentah melalui transfer antar-kapal kepada pihak perantara sebelum kargo tersebut dikirimkan ke China. Dengan mematikan sistem pemantau otomatis ini, kapal beroperasi secara samar untuk menghindari deteksi langsung.








