Bagaimana sebuah gempa bumi berkekuatan besar bisa terjadi jauh di dalam lempeng samudra yang sedang menunjam, dan bukan di batas pertemuan antarlempeng seperti yang biasa kita dengar? Fenomena inilah yang mendasari peristiwa tektonik di Kolombia bagian barat. Kejadian ini menarik perhatian banyak pihak karena melibatkan mekanisme pecahnya bagian dalam lempeng yang sedang menyusup ke bawah benua, suatu kondisi tektonik yang kompleks namun penting untuk dipahami dalam mitigasi bencana.
Peristiwa tektonik ini terjadi pada hari Senin pagi tanggal 10 Agustus 2026. Gempa dahsyat dengan kekuatan Mw7,4 tersebut mengguncang wilayah barat Kolombia dan mengakibatkan kerusakan serta dampak yang cukup parah bagi warga sekitar. Berdasarkan data seismik, pusat gempa atau episenter berada di koordinat 4,844 Lintang Utara dan 76,242 Bujur Barat. Lokasi tepatnya berada sekitar 5 km di sebelah selatan San Jos茅 del Palmar, Kolombia. Dampak dari guncangan ini sangat nyata, dengan laporan resmi yang mencatat 138 orang meninggal dunia dan sekitar 570 orang lainnya mengalami luka-luka. Gempa ini memiliki hiposenter pada kedalaman menengah (intermediate-depth), yaitu sedalam 110,3 km di bawah permukaan bumi.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Mengapa gempa ini bisa terjadi di kedalaman lebih dari seratus kilometer? Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa gempa bumi ini merupakan manifestasi langsung dari dinamika deformasi internal yang terjadi pada sistem subduksi aktif di sepanjang Palung Peru-Chile. Di wilayah ini, Lempeng Samudra Nazca menunjam secara aktif ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan. Proses penunjaman yang terus berlangsung ini menciptakan tekanan yang sangat besar pada batuan penyusun lempeng tersebut seiring berjalannya waktu.
Satu hal penting yang perlu dipahami dari karakter gempa ini adalah lokasi pelepasan energinya yang tidak biasa. Pelepasan energi tektonik kali ini tidak terjadi di bidang kontak antarlempeng atau yang sering disebut sebagai bidang interplate interface-megathrust. Sebaliknya, guncangan hebat ini dipicu oleh deformasi internal, akumulasi regangan mekanis, serta patahan yang terjadi di dalam bagian slab (lempeng) litosfer samudra yang sedang menunjam tersebut. Kondisi inilah yang memicu robekan atau patahan di dalam tubuh Lempeng Nazca itu sendiri saat terus terdorong ke kedalaman mantel bumi, bukan gesekan langsung di permukaan luar lempeng.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Kolombia sendiri memiliki catatan sejarah gempa bumi merusak yang sangat panjang akibat interaksi lempeng aktif di kawasannya. Sebagai perbandingan historis, wilayah ini pernah dilanda gempa Kolombia berkekuatan Mw8,8 pada tahun 1906. Gempa terkuat di lepas pantai perbatasan Ekuador-Kolombia tersebut memicu tsunami besar dan menewaskan hingga 1.500 jiwa. Selain itu, ada pula catatan mengenai gempa C煤cuta berkekuatan Mw7,9 pada tahun 1875 di dekat perbatasan Venezuela yang menyebabkan sekitar 10.000 orang meninggal dunia. Sejarah juga mencatat gempa Armenia dengan kekuatan Mw6,2 pada tahun 1999 yang mengguncang kawasan kopi (Eje Cafetero) dan menewaskan lebih dari 1.900 orang. Melalui pemahaman terhadap mekanisme patahan di dalam lempeng seperti pada kasus Lempeng Samudra Nazca ini, para ahli dapat terus memetakan potensi bahaya tektonik demi keselamatan masyarakat.






