Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump setidaknya dua kali melalui sambungan telepon guna mendesak Washington melancarkan serangan militer langsung terhadap basis-basis kelompok Houthi di Yaman. Upaya diplomasi tingkat tinggi ini berlangsung di tengah perang antara AS dan Iran yang kini telah memasuki bulan ketujuh dan kian menekan rute pasokan energi internasional.
Berdasarkan laporan internal yang dihimpun Reuters, desakan dari Riyadh dipicu oleh kemajuan signifikan milisi Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah. Kelompok yang beraliansi dengan Iran tersebut berhasil menguasai Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb, sebuah titik perlintasan maritim yang sangat krusial bagi navigasi kapal tanker internasional.
Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan ekspor energi Riyadh. Sejak perang AS-Iran menutup jalur Selat Hormuz鈥攜ang biasanya dilintasi oleh seperlima dari total pasokan minyak mentah dunia鈥擜rab Saudi praktis mengalihkan tumpuan distribusinya ke rute alternatif di Laut Merah. Ketika Houthi menguasai titik sempit di Bab el-Mandeb, koridor pengiriman minyak alternatif tersebut ikut berada dalam jangkauan ancaman langsung.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Penolakan Militer dari Gedung Putih
Kendati MBS meminta intervensi militer langsung secara mendesak, Presiden Donald Trump menolak permintaan tersebut. Washington memilih membatasi keterlibatannya dengan hanya menawarkan dukungan berupa pertukaran data intelijen (intelligence sharing) serta bantuan penentuan target sasaran (targeting assistance).
Sikap berhati-hati Washington tidak lepas dari dinamika politik dan ekonomi dalam negeri AS. Lonjakan harga minyak mentah dan bensin akibat perang berkepanjangan dengan Iran telah menekan tingkat kepuasan publik (approval ratings) terhadap kepemimpinan Trump hingga mencapai level terendah menjelang pemilihan umum paruh waktu pada November mendatang. Melibatkan pasukan secara langsung dalam front baru melawan Houthi dinilai berisiko memperburuk stabilitas harga bahan bakar di pasar domestik AS.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Seorang pejabat senior di lingkungan Gedung Putih menegaskan bahwa fokus utama AS saat ini adalah menjaga kebebasan navigasi di kawasan Laut Merah. Di saat yang sama, Washington mendorong para mitra regional di Timur Tengah untuk memegang kendali mandiri dalam menyelesaikan tantangan keamanan di wilayah masing-masing.
Eskalasi di Semenanjung Arab ini sekaligus mengakhiri masa gencatan senjata yang sempat bertahan selama empat tahun antara Riyadh dan kubu Houthi. Ketegangan kedua pihak kembali meletus sejak awal Juli lalu menyusul insiden di Bandara Internasional Sanaa, yang kini berkembang menjadi krisis keamanan maritim serius bagi jalur distribusi minyak dunia.






