Populasi orangutan Kalimantan kini menghadapi tantangan kelangsungan hidup yang kian berat akibat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016, Kalimantan menjadi habitat bagi sekitar 57.350 individu orangutan borneo. Angka ini mencerminkan penurunan drastis hingga 80 persen dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun, mengingat estimasi Yayasan BOS mencatat keberadaan 288.500 individu pada tahun 1973. Sebaran satwa ini terbagi dalam tiga subspesies, yaitu Pongo pygmaeus wurmbii sebanyak kurang lebih 38.200 individu di Kalimantan Tengah dan Barat, Pongo pygmaeus pygmaeus dengan sekitar 4.520 individu di Kalimantan Barat dan Sarawak, serta Pongo pygmaeus morio yang berjumlah sekitar 14.630 individu di Kalimantan Timur dan Sabah.
Eskalasi kebakaran lahan kembali menempatkan habitat satwa endemik ini dalam posisi rentan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kemunculan 1.487 titik panas di seluruh wilayah Kalimantan per Kamis (20/8). Sebaran titik panas terbanyak terkonsentrasi di Kalimantan Tengah dengan 767 titik dan Kalimantan Barat dengan 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing mencatat 74 titik panas, serta Kalimantan Utara memiliki 3 titik. Sebaran api dilaporkan mulai mendekati kantong-kantong populasi penting, termasuk kawasan di sekitar Taman Nasional Sebangau dan wilayah Pulang Pisau.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Tekanan karhutla tidak hanya merusak vegetasi secara langsung, tetapi juga merusak rantai ekologis penyedia pakan orangutan. Kabut asap tebal mengganggu proses polinasi alami oleh lebah dan tanaman hutan, yang berdampak pada kegagalan pohon untuk berbunga dan berbuah. Paparan asap selama 2 hingga 3 bulan berpotensi memicu krisis ketersediaan pakan bagi satwa liar selama 6 hingga 7 bulan ke depan. Kerusakan kanopi dan pohon pakan juga membutuhkan waktu pemulihan yang sangat panjang, di mana satu pohon yang hangus memerlukan minimal 15 tahun perawatan untuk dapat kembali tumbuh.
Kondisi habitat yang terbakar dan terkepung asap memaksa orangutan bergerak keluar mencari perlindungan dan sumber makanan baru. Pergerakan ini kerap mengarahkan satwa liar ke area perkebunan serta pemukiman warga, seperti yang terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Meski sejauh ini belum ditemukan laporan kematian orangutan secara langsung akibat api鈥攂erbeda dengan temuan bangkai reptil seperti ular鈥攑ergeseran ruang hidup ini meningkatkan potensi gesekan dengan aktivitas manusia.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Operasi pemadaman dan mitigasi udara terus dikerahkan untuk menekan perluasan kebakaran di sekitar habitat satwa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengoperasikan 20 unit armada udara di Kalimantan yang mencakup 12 helikopter water bombing berkapasitas besar, 5 helikopter patroli, dan 3 pesawat modifikasi cuaca. Dukungan tambahan juga datang dari TNI AU yang mengerahkan 3 pesawat Casa NC-212 dari Skadron Udara 4 pada Jumat (21/8) untuk memperkuat operasi teknologi modifikasi cuaca demi memicu hujan buatan di titik-titik rawan.






