Status sebagai pemilik cadangan minyak bumi terbesar di Benua Afrika tidak menjamin ketahanan energi dalam negeri Libya. Negara yang menyimpan sekitar 48 miliar barel cadangan minyak terbukti ini justru terperosok ke dalam krisis parah: pemadaman listrik berkepanjangan melumpuhkan berbagai kota dan pasokan bahan bakar minyak (BBM) mendadak langka di stasiun pengisian.
Kondisi ini memukul langsung aktivitas masyarakat serta operasional usaha harian. Di tengah lonjakan suhu udara yang mendekati 50 derajat Celsius di sejumlah wilayah, warga kesulitan mendinginkan tempat tinggal maupun menjaga keberlangsungan bisnis. Ketergantungan pada mesin generator kian membebani karena harga perangkat melonjak tajam akibat lonjakan permintaan pasar, sementara pasokan bensin untuk menghidupkannya sangat terbatas.
Antrean kendaraan mengular di kawasan barat dan tengah Libya. Para pengemudi terpaksa menunggu hingga enam jam atau lebih di depan SPBU, dengan deretan mobil yang mengular hingga empat kilometer.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Ketimpangan Kilang dan Tekanan Impor
Secara kapasitas hulu, Libya mampu memproduksi sekitar 1,5 juta barel minyak mentah per hari dengan target ekspansi mencapai 2 juta barel per hari. Namun, sektor hilir negara tersebut mengalami disproporsi besar. Fasilitas pengolahan domestik hanya mampu memproduksi sepertiga dari total kebutuhan bahan bakar nasional.
Kesenjangan kapasitas itu memaksa pemerintah mendatangkan pasokan dari luar. Pada tahun lalu, nilai impor bahan bakar Libya tercatat menembus US$ 7,8 miliar atau setara Rp 138,06 triliun. Alokasi anggaran yang sangat besar untuk pengadaan BBM belum mampu menambal defisit distribusi secara berkelanjutan.
Gangguan pasokan fisik kian parah akibat instabilitas keamanan. Di Zawiya鈥攚ilayah yang berjarak sekitar 45 kilometer di sebelah barat Tripoli鈥攕ebuah reservoir utama berkapasitas sekitar 4,5 juta liter bensin terkena serangkaian serangan pesawat nirawak (drone). Kawasan ini telah lama dikenal sebagai titik rawan bentrokan bersenjata antarkelompok sekaligus simpul penyelundupan lintas batas untuk komoditas BBM, obat-obatan, dan migran.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Sorotan atas Tata Kelola dan Evaluasi PBB
Sejumlah analis sektor energi serta perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai krisis pasokan dan listrik padam di Libya bersumber dari problem tata kelola kronis. Selain penyelundupan minyak mentah dan bahan bakar ke luar negeri, anggaran pemeliharaan pembangkit listrik dinilai kerap mengalami salah urus.
Utusan PBB untuk Libya, Hanna Tetteh, menegaskan bahwa pemadaman listrik skala luas mencerminkan dampak langsung dari fragmentasi kelembagaan politik, pengalihan sumber daya publik secara masif, dan minimnya investasi berkelanjutan pada infrastruktur dasar. Kombinasi faktor kelembagaan dan kerentanan distribusi ini membuat pasokan energi tetap rapuh meski negara berada di atas limpahan cadangan minyak mentah.






