Ketegangan geopolitik dan ekonomi global kembali memanas menyusul langkah pemerintah Amerika Serikat yang memperluas sanksi terhadap Teheran. Sebagai respons, Iran melontarkan ancaman keras yang membidik pasokan energi dunia serta membuka peluang eskalasi persenjataan nuklir.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan bahwa Washington secara khusus menargetkan jaringan penghindaran sanksi yang dibangun oleh Teheran. Kebijakan ekonomi tersebut menitikberatkan pada penegakan dan perluasan pembatasan di sektor aset digital, teknologi, serta jalur pelayaran internasional.
Blokade Selat Hormuz dan Gangguan Distribusi Minyak
Menanggapi tekanan ekonomi tersebut, Pemimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menegaskan peringatan keras terhadap lalu lintas energi di kawasan Timur Tengah. Rezaei menyatakan bahwa jika perang ekonomi terus berlanjut, tidak akan ada setetes pun minyak yang dapat diekspor melalui Selat Hormuz maupun dari area mana pun di Teluk Persia.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Langkah pengetatan di perairan strategis ini telah berlangsung selama berbulan-bulan. Iran memblokir kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur krusial yang menyumbang sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global sebelum konflik meruncing. Selain itu, kelompok Houthi di Yaman turut membuka front baru di Laut Merah dengan menyasar ekspor minyak Arab Saudi.
Tekanan di jalur laut memaksa perusahaan minyak dari Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab mematikan transponder kapal tanker mereka demi menghindari pantauan otoritas Iran. Untuk menjaga aliran pasokan, Arab Saudi telah mengalihkan rute sekitar 5 juta barel minyak per hari melalui pipa Timur-Barat agar dapat dikirim via Laut Merah, sementara produsen Timur Tengah lainnya mengalihkan sekitar 2 juta barel per hari. Di sisi lain, Teheran telah merilis daftar 45 kapal yang dinilai melanggar aturan dan mengancam akan menjatuhkan sanksi hukum bagi armada tersebut.
Meluasnya Konflik dan Wacana Senjata Nuklir
Eskalasi perselisihan ini kian merambah wilayah pertahanan internasional. Kementerian Luar Negeri Iran menyoroti pergerakan pesawat pengisian bahan bakar AS yang terpantau beroperasi dari Bulgaria. Teheran pun memperingatkan kemungkinan menargetkan negara anggota Uni Eropa dan NATO tersebut jika keterlibatan militer berlanjut.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Catatan operasi militer menunjukkan serangan telah menyasar berbagai titik strategis, termasuk fasilitas di 11 negara, pangkalan militer Inggris di Siprus, hingga wilayah pulau di Samudra Hindia yang difungsikan oleh pasukan militer AS.
Di dalam negeri, situasi keamanan mengalami pergeseran drastis pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam aksi pembunuhan oleh pihak AS dan Israel. Parlemen Iran kini tengah memperdebatkan rancangan undang-undang untuk menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Sekitar setengah ton uranium dengan tingkat pengayaan tinggi yang berpotensi digunakan untuk perakitan senjata dilaporkan masih tersimpan di dalam wilayah Iran, memicu kekhawatiran baru bagi stabilitas keamanan dan pasar energi internasional.






