Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan secara diam-diam telah meninggalkan Turki dengan menggunakan pesawat militer rahasia setelah menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara. Langkah penyelamatan dan operasi pemindahan secara tertutup ini terpaksa dilakukan oleh pihak berwenang karena adanya ancaman pembunuhan serius yang datang dari Iran terhadap keselamatan sang presiden.
Sebelum peristiwa pemindahan rahasia ini terjadi, Donald Trump diketahui terbang menuju Ankara dengan menaiki pesawat Boeing 747 yang merupakan hadiah langsung dari Qatar dan baru saja selesai menjalani proses renovasi. Melalui akun media sosial pribadinya, Truth Social, Trump sempat mengumumkan kepada publik bahwa ia akan menggunakan pesawat Air Force One berwarna biru muda demi mengenang masa lalu untuk terbang menuju Pangkalan Udara RAF Mildenhall di Inggris. Namun, rencana awal tersebut dibatalkan secara mendadak demi keamanan. Trump justru dipindahkan secara rahasia menggunakan truk katering bandara untuk menuju ke pesawat lain, yaitu Air Force C-32A. Operasi pemindahan ini dilakukan dengan tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi, bahkan sejumlah staf penting di Gedung Putih sendiri diyakini tidak mengetahui adanya perpindahan armada tersebut.
Ketatnya prosedur keamanan dan kerahasiaan operasi ini juga dirasakan langsung oleh rombongan jurnalis yang ikut serta dalam perjalanan tersebut. Para wartawan yang awalnya mengira akan terbang bersama Trump di dalam satu pesawat diminta untuk menutup rapat-rapat tirai jendela pada kabin pers mereka selama penerbangan berlangsung. Di tengah situasi yang penuh tanda tanya tersebut, Trump sempat melontarkan perkataan kepada para wartawan bahwa mereka mungkin sedang berada dalam sebuah penerbangan yang berbahaya. Ia kemudian berseloroh dengan menambahkan, "Tapi kalau saya pergi, kalian juga ikut. Benar, kan?"
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Pesawat militer rahasia C-32A yang membawa Trump akhirnya mendarat dengan selamat di Inggris sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Waktu kedatangan pesawat rahasia ini tercatat hanya berselisih beberapa menit saja sebelum pesawat Air Force One lama yang membawa rombongan awak media tiba di lokasi. Setelah itu, sekitar pukul 22.56 waktu setempat, Trump terlihat turun dari pesawat Air Force One lama tersebut. Di hadapan para wartawan yang telah menunggunya, Trump hanya memberikan isyarat damai dengan jarinya tanpa memberikan keterangan atau pernyataan resmi apa pun mengenai situasi yang terjadi.
Menanggapi hebohnya kabar mengenai operasi penerbangan rahasia ini, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steve Cheung memberikan penjelasan resmi terkait aspek keamanan presiden. Cheung menyatakan bahwa jet Boeing 747 hibah dari Qatar tersebut sebenarnya telah dilengkapi dengan protokol keamanan tingkat tinggi yang dirancang untuk melindungi presiden beserta seluruh stafnya. Cheung juga menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki banyak musuh yang terus mengincar keselamatan Trump, sehingga pihak keamanan akan menggunakan segala sarana yang tersedia demi mengatasi dan menangani ancaman-ancaman tersebut.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Saat ini, pesawat Boeing 747 yang merupakan hibah dari Qatar tersebut tengah disiapkan secara khusus untuk menjadi armada pengganti sementara bagi Air Force One. Proses modifikasi terhadap pesawat tersebut dikerjakan oleh kontraktor pertahanan L3Harris Technologies. Langkah modifikasi ini terpaksa dilakukan karena adanya keterlambatan dari pihak pabrikan Boeing dalam menyerahkan pesawat Air Force One generasi terbaru yang sudah dipesan oleh pemerintah Amerika Serikat.






