Massa revolusi bergerak mengepung dan menjarah Istana Darussalam pada 1946, mengakhiri masa kejayaan Sultan Mahmud yang memimpin Kesultanan Langkat sejak 1927. Gelombang Revolusi Sosial Sumatra Timur tersebut memporak-porandakan kediaman megah sang penguasa dan menjadi titik balik nasib keluarga bangsawan Langkat. Dalam kekacauan tersebut, sejumlah anggota keluarga kesultanan turut ditangkap serta mengalami tindak kekerasan.
Peristiwa tragis itu menutup riwayat kekayaan Kesultanan Langkat yang sebelumnya dikenal sangat berlimpah di kawasan barat nusantara.
Sumber Kekayaan dan Gaya Hidup Modern
Akumulasi kekayaan Langkat bermula saat cadangan minyak bumi ditemukan di Telaga Said, Pangkalan Brandan, pada era kekuasaan kakek Mahmud, Sultan Musa (1840–1893). Perusahaan minyak asal Belanda, Royal Dutch Petroleum, kemudian masuk untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan mengembangkan Pangkalan Brandan sebagai salah satu sentra pengolahan minyak terbesar di Sumatra.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Aktivitas pertambangan tersebut memberikan pemasukan langsung bagi kas kesultanan. Sultan Langkat tercatat menerima sekitar US$3.000 per tahun dari sektor migas. Di luar minyak bumi, kas kesultanan juga dipasok dari komoditas perkebunan tembakau serta pemanfaatan kayu hutan.
Kemakmuran itu kian tampak nyata pada era Sultan Aziz (1897–1927), yang membangun istana megah serta membeli kapal tanker. Pada fase ini, keluarga istana kian terbiasa mengadopsi gaya hidup modern ala bangsa Eropa, mencakup tata cara berpakaian, kebiasaan budaya, hingga pola konsumsi makanan.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Puncak Kemewahan Sultan Mahmud
Puncak gelimang harta kesultanan berlangsung di bawah kepemimpinan Sultan Mahmud pada periode 1927 hingga 1946. Sejarawan Anthony Reid dalam karyanya, The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra (1979), mencatat Sultan Mahmud sebagai sultan paling kaya dibandingkan seluruh penguasa kesultanan dan kerajaan lain di Sumatra Timur.
Kemewahan pribadi Sultan Mahmud dibuktikan dengan kepemilikan aset mewah berupa 13 unit mobil limosin serta dua unit kapal pesiar. Namun, seluruh simbol kemewahan dan kejayaan ekonomi tersebut musnah dalam sekejap ketika pergolakan sosial meletus pada 1946.






