Pabrik baterai kendaraan listrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, telah resmi memulai kegiatan operasionalnya sejak Juli 2026. Fasilitas manufaktur ini menjadi pabrik baterai electric vehicle (EV) kedua yang beroperasi di Indonesia, menyusul peresmian pabrik milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di kawasan yang sama pada Juli 2024.
PT CATIB merupakan entitas patungan bentukan konsorsium Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan porsi kepemilikan saham 30 persen dan CBL鈥攁nak usaha produsen baterai Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL)鈥攕ebesar 70 persen. Fasilitas produksi tersebut dirancang untuk menghasilkan sel baterai kendaraan listrik sekaligus sistem penyimpanan daya atau Battery Energy Storage System (BESS).
Kapasitas Tahap Awal dan Rencana Ekspansi
Pembangunan pabrik terintegrasi ini menempati kawasan Artha Industrial Hill serta Karawang New Industry City, setelah pelaksanaan peletakan batu pertama (groundbreaking) yang diresmikan oleh Prabowo pada 29 Juni 2025. Kompleks produksi CATIB mencakup bangunan pabrik sel baterai sepanjang 1 kilometer yang berdampingan langsung dengan fasilitas perakitan kemasan (packing).
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Pada tahap pertama, kapasitas produksi yang telah dibangun mencapai 6,9 Gigawatt hour (GWh) per tahun. Ke depan, kapasitas tersebut ditargetkan mengalami ekspansi hingga sedikitnya 15 GWh. Total nilai investasi untuk pengembangan pabrik sel baterai hingga mencapai 15 GWh diperkirakan menembus US$ 1,2 miliar atau setara Rp 21,19 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.662 per dolar AS). Kapasitas 15 GWh diproyeksikan mampu memasok kebutuhan daya bagi sekitar 250.000 unit mobil listrik.
Untuk mendukung operasional jangka panjang, IBC telah mengirimkan 600 tenaga kerja lokal ke Tiongkok guna mengikuti program alih pengetahuan teknis manufaktur baterai. Selain itu, IBC merencanakan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 18 MW peak pada 2027 untuk memasok energi bersih ke fasilitas tersebut.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Bagian dari Ekosistem Hulu-Hilir Rp 96 Triliun
Pabrik sel baterai di Karawang (JV 5) merupakan komponen hilir dari megaproyek rantai pasok terintegrasi antara konsorsium Indonesia dengan CATL melalui CBL. Keseluruhan ekosistem terbagi ke dalam enam perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan komitmen investasi awal mencapai US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 96,04 triliun (kurs Rp 16.278 per dolar AS).
Selain pabrik baterai Karawang yang direncanakan memasuki fase kedua berkapasitas 8,1 GWh pada 2028, ekosistem proyek ini mencakup:
- JV 1 (PT Sumberdaya Arindo): Penambangan bijih nikel saprolit dan limonit berkapasitas total 13,8 juta wet metric ton (wmt) per tahun (51% PT Antam, 49% CBL), yang telah berproduksi sejak 2023.
- JV 2 (PT Feni Haltim): Smelter pirometalurgi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) berkapasitas 88 ribu ton refined nickel alloy per tahun (60% CBL, 40% PT Antam), ditargetkan beroperasi pada 2027.
- JV 3 (PT Nickel Cobalt Halmahera): Smelter hidrometalurgi High Pressure Acid Leaching (HPAL) berkapasitas 55 ribu ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun (70% CBL, 30% PT Antam), ditargetkan berproduksi pada 2028.
- JV 4: Pabrik material katoda, kobalt sulfat, dan prekursor terner berkapasitas 30 ribu ton lithium hidroksida di Halmahera Timur senilai US$ 600 juta (Rp 10,59 triliun) dengan kepemilikan 70% CBL dan 30% IBC, ditargetkan beroperasi 2028.
- JV 6: Fasilitas daur ulang baterai berkapasitas 20 ribu ton logam per tahun di Halmahera Timur (60% CBL, 40% IBC), dengan target mulai beroperasi pada 2031.






