Ketidakpastian ekonomi global serta kondisi likuiditas yang masih ketat membuat sejumlah bank swasta di Indonesia mengambil langkah yang lebih berhati-hati dalam merancang strategi bisnis mereka untuk menghadapi semester II 2026. Bagi para pelaku ekonomi digital, wirausahawan, dan masyarakat yang membutuhkan akses pembiayaan, memahami peta perbankan saat ini sangatlah penting sebagai panduan. Fokus utama perbankan kini bukan lagi sekadar mengejar pertumbuhan penyaluran kredit setinggi mungkin. Sebaliknya, lembaga keuangan lebih mengutamakan penjagaan kualitas aset, memperketat proses penyaluran kredit, serta berupaya memperkuat likuiditas dan permodalan agar tetap stabil.
Salah satu langkah penyesuaian yang dapat dicermati adalah pergeseran fokus segmen pembiayaan demi memperbaiki komposisi portofolio. PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC), yang dipimpin oleh Direktur Utama Eri Budiono, memilih untuk mengurangi porsi penyaluran kredit pada segmen komersial dan korporasi. Sebagai gantinya, bank ini meningkatkan pembiayaan pada sektor konsumer dan UMKM sebesar 6,68 persen hingga mencapai angka Rp 5,8 triliun. Langkah ini diambil untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan dan efisiensi operasional. Penyesuaian juga terlihat pada PaninBank, di mana penyaluran kredit perseroan pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp 139,64 triliun. Angka penyaluran kredit PaninBank tersebut mengalami penurunan sebesar 3,75 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan kebijakan bank yang lebih selektif dalam memilih sektor usaha, debitur, maupun tujuan pembiayaan demi menjaga kualitas portofolio.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Di sisi lain, terdapat bank swasta yang tetap mencatatkan pertumbuhan kredit dan berhasil menjaga indikator kualitas aset tetap sehat. Permata Bank, di bawah kepemimpinan Direktur Utama Meliza M. Rusli, membukukan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 5,3 persen dengan total mencapai Rp 171,2 triliun. Meskipun mencatatkan pertumbuhan, ekspansi tetap dilakukan secara sangat hati-hati. Permata Bank berhasil mempertahankan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto pada level 2,1 persen. Selain itu, rasio loan at risk (LAR) Permata Bank juga mengalami perbaikan menjadi 5,9 persen, yang dinilai menunjukkan kemampuan perseroan dalam menjaga pertumbuhan sekaligus beradaptasi di tengah kondisi ekonomi yang cepat berubah.
Perkembangan positif lainnya ditunjukkan oleh OCBC yang dipimpin oleh Presiden Direktur Parwati Surjaudaja. Hingga Juni 2026, penyaluran kredit OCBC berhasil tumbuh sebesar 11 persen menjadi Rp 185,3 triliun. Pertumbuhan penyaluran dana ini berjalan selaras dengan dukungan dana pihak ketiga yang juga tumbuh sebesar 11 persen. Walaupun angka kredit meningkat, OCBC tetap berhasil menjaga kualitas asetnya dengan rasio NPL bruto pada level 1,9 persen, sedangkan rasio LAR mengalami penurunan menjadi 4,8 persen. Pencapaian pada paruh pertama tahun ini semakin memperkuat fondasi OCBC untuk terus bertumbuh secara sehat dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Data ini memberikan panduan bagi pelaku usaha mengenai ketersediaan fasilitas kredit yang dikelola dengan manajemen risiko yang ketat.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Terakhir, Danamon di bawah kepemimpinan Direktur Utama Nobuya Kawasaki juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan pada paruh pertama tahun ini. Danamon membukukan pertumbuhan untuk sektor kredit dan trade finance sebesar 12 persen, dengan total penyaluran mencapai Rp 230,1 triliun pada semester I 2026. Perbaikan kualitas kredit Danamon terlihat jelas dari rasio LAR yang turun menjadi 7,8 persen, atau membaik sebanyak 263 basis poin dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Manajemen Danamon bersikap optimistis dalam mempertahankan pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini melalui fondasi finansial yang kuat. Dengan melihat keseluruhan data kinerja perbankan swasta ini, para pelaku ekonomi dapat menyimpulkan bahwa meskipun likuiditas ketat dan ketidakpastian global membayangi semester II 2026, akses pembiayaan tetap tersedia secara selektif bagi sektor-sektor yang memenuhi kriteria kehati-hatian perbankan.






