Perdagangan karbon di Indonesia membuka peluang bagi pelaku ekonomi hijau, meskipun volumenya saat ini masih tergolong rendah. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup, bursa karbon nasional tercatat mencapai 3,1 juta ton CO2 ekuivalen. Sebagian besar dari jumlah tersebut masih didominasi oleh proyek berbasis teknologi (tech-based), sedangkan proyek berbasis alam (natural-based) belum tersedia. Bagi pihak yang ingin terlibat, memahami ekosistem ini merupakan langkah awal untuk berpartisipasi dalam nilai ekonomi karbon.
Langkah pertama untuk berpartisipasi adalah memahami valuasi kredit karbon yang berlaku saat ini. Harga kredit karbon di pasar bervariasi tergantung pada jenis proyeknya. Sebagai contoh, kredit karbon dari proyek efisiensi energi diperdagangkan di kisaran Rp58.000 per ton CO2 ekuivalen. Sementara itu, kredit karbon dari proyek energi baru terbarukan (EBT) dihargai senilai Rp144.000 per ton CO2 ekuivalen. Namun, harga tersebut dinilai belum mencerminkan biaya sesungguhnya yang dibutuhkan untuk menggenjot dekarbonisasi.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Langkah kedua adalah mencermati pencatatan proyek melalui sistem pemerintah. Pelaku usaha dapat melihat proyek yang terdaftar dalam sistem Sertifikat Pengurangan Emisi Indonesia (SPEI). Saat ini, dalam pipeline SPEI terdapat 47 proyek dengan emisi tahunan sekitar 4,6 juta ton CO2 ekuivalen. Selain itu, terdapat 26 proyek eks skema Clean Development Mechanism (CDM) yang akan ditransisikan ke mekanisme Paris Agreement.
Langkah ketiga adalah menyelaraskan proyek dengan standar internasional dan proyek dekarbonisasi nasional. Proyek Indonesia yang sudah terdaftar dalam standar internasional diperkirakan memiliki potensi sebanyak 48,8 juta ton CO2 ekuivalen. Terdapat pula sekitar 800 ribu ton CO2 ekuivalen pada Gold Standard. Peluang lainnya mencakup pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 103 GW yang diperkirakan memiliki potensi penurunan emisi hingga 140 juta ton CO2 ekuivalen. Implementasi biodiesel B50 juga diproyeksikan mampu memangkas emisi karbon hingga sekitar 44 juta sampai 47 juta ton CO2 ekuivalen per tahun, serta pengembangan carbon capture and storage (CCS) di Lapangan Abadi Masela dengan potensi sekitar 4 juta ton CO2 ekuivalen per tahun.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Meskipun potensi penurunan emisi di Indonesia sangat terbuka, partisipan harus tetap memperhatikan kondisi pasar. Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup, Ary Sudijanto, menyatakan bahwa volume perdagangan dan sektor yang aktif saat ini masih terbatas. Dengan memahami regulasi SPEI, mencermati perbedaan harga antara proyek efisiensi energi dan EBT, serta mengikuti perkembangan mekanisme internasional, pelaku usaha dapat menyusun strategi untuk ikut serta dalam pasar karbon Indonesia.






