Perdagangan karbon di Indonesia membuka peluang bagi pelaku ekonomi hijau, meskipun volumenya saat ini masih tergolong rendah. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup, bursa karbon nasional tercatat mencapai 3,1 juta ton CO2 ekuivalen. Sebagian besar dari jumlah tersebut masih didominasi oleh proyek berbasis teknologi (tech-based), sedangkan proyek berbasis alam (natural-based) belum tersedia. Bagi pihak yang ingin terlibat, memahami ekosistem ini merupakan langkah awal untuk berpartisipasi dalam nilai ekonomi karbon.
Langkah pertama untuk berpartisipasi adalah memahami valuasi kredit karbon yang berlaku saat ini. Harga kredit karbon di pasar bervariasi tergantung pada jenis proyeknya. Sebagai contoh, kredit karbon dari proyek efisiensi energi diperdagangkan di kisaran Rp58.000 per ton CO2 ekuivalen. Sementara itu, kredit karbon dari proyek energi baru terbarukan (EBT) dihargai senilai Rp144.000 per ton CO2 ekuivalen. Namun, harga tersebut dinilai belum mencerminkan biaya sesungguhnya yang dibutuhkan untuk menggenjot dekarbonisasi.








