tartilybanjary.id
BerandaEkonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan Publik
Beranda/Ekonomi Digital

Partisipasi dalam Bursa Karbon Indonesia dan Peluang Nilai Ekonominya

Ance ManoppoDiterbitkan 30 Jul 2026 - 18.14 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Partisipasi dalam Bursa Karbon Indonesia dan Peluang Nilai Ekonominya
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Perdagangan karbon di Indonesia membuka peluang bagi pelaku ekonomi hijau, meskipun volumenya saat ini masih tergolong rendah. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup, bursa karbon nasional tercatat mencapai 3,1 juta ton CO2 ekuivalen. Sebagian besar dari jumlah tersebut masih didominasi oleh proyek berbasis teknologi (tech-based), sedangkan proyek berbasis alam (natural-based) belum tersedia. Bagi pihak yang ingin terlibat, memahami ekosistem ini merupakan langkah awal untuk berpartisipasi dalam nilai ekonomi karbon.

Langkah pertama untuk berpartisipasi adalah memahami valuasi kredit karbon yang berlaku saat ini. Harga kredit karbon di pasar bervariasi tergantung pada jenis proyeknya. Sebagai contoh, kredit karbon dari proyek efisiensi energi diperdagangkan di kisaran Rp58.000 per ton CO2 ekuivalen. Sementara itu, kredit karbon dari proyek energi baru terbarukan (EBT) dihargai senilai Rp144.000 per ton CO2 ekuivalen. Namun, harga tersebut dinilai belum mencerminkan biaya sesungguhnya yang dibutuhkan untuk menggenjot dekarbonisasi.

tartilybanjary.id

Copyright 2026 tartilybanjary.id - All Rights Reserved.

Kategori

Ekonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan PublikEkonomiEkonomi Digital & Bisnis
Ekonomi
Ekonomi Digital & Bisnis
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global
Populer
Baca Juga

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

Langkah kedua adalah mencermati pencatatan proyek melalui sistem pemerintah. Pelaku usaha dapat melihat proyek yang terdaftar dalam sistem Sertifikat Pengurangan Emisi Indonesia (SPEI). Saat ini, dalam pipeline SPEI terdapat 47 proyek dengan emisi tahunan sekitar 4,6 juta ton CO2 ekuivalen. Selain itu, terdapat 26 proyek eks skema Clean Development Mechanism (CDM) yang akan ditransisikan ke mekanisme Paris Agreement.

Langkah ketiga adalah menyelaraskan proyek dengan standar internasional dan proyek dekarbonisasi nasional. Proyek Indonesia yang sudah terdaftar dalam standar internasional diperkirakan memiliki potensi sebanyak 48,8 juta ton CO2 ekuivalen. Terdapat pula sekitar 800 ribu ton CO2 ekuivalen pada Gold Standard. Peluang lainnya mencakup pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 103 GW yang diperkirakan memiliki potensi penurunan emisi hingga 140 juta ton CO2 ekuivalen. Implementasi biodiesel B50 juga diproyeksikan mampu memangkas emisi karbon hingga sekitar 44 juta sampai 47 juta ton CO2 ekuivalen per tahun, serta pengembangan carbon capture and storage (CCS) di Lapangan Abadi Masela dengan potensi sekitar 4 juta ton CO2 ekuivalen per tahun.

Baca Juga

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

Meskipun potensi penurunan emisi di Indonesia sangat terbuka, partisipan harus tetap memperhatikan kondisi pasar. Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup, Ary Sudijanto, menyatakan bahwa volume perdagangan dan sektor yang aktif saat ini masih terbatas. Dengan memahami regulasi SPEI, mencermati perbedaan harga antara proyek efisiensi energi dan EBT, serta mengikuti perkembangan mekanisme internasional, pelaku usaha dapat menyusun strategi untuk ikut serta dalam pasar karbon Indonesia.

Ikuti tartilybanjary.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Bursa KarbonKredit KarbonSPEIKementerian Lingkungan HidupEkonomi Hijau

Berita Terbaru Lainnya

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang UtamaMenyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif IndonesiaCara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPKMewaspadai Modus Ganjal ATM, Pelajaran dari Kasus Penyergapan di PamulangDampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani Tebu

Paling Banyak Dibaca

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

Ekonomi Digital

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

30 Jul 2026

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

Finance

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

30 Jul 2026

IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang Utama

Pasar Saham

IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang Utama

30 Jul 2026

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

Ekonomi Digital

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

30 Jul 2026

Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif Indonesia

Ekonomi Digital

Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif Indonesia

30 Jul 2026

Cara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPK

Regulasi & Kepatuhan

Cara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPK

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90Ekonomi Digital 路 30 Jul 2026
  2. 2Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026Finance 路 30 Jul 2026
  3. 3IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang UtamaPasar Saham 路 30 Jul 2026
  4. 4Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027Ekonomi Digital 路 30 Jul 2026
  5. 5Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif IndonesiaEkonomi Digital 路 30 Jul 2026
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap