Aktivitas belajar tatap muka di Kota Depok dialihkan sementara waktu menyusul paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Depok menetapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar dari Rumah (BDR) selama dua hari, terhitung mulai Senin hingga Selasa.
Kebijakan belajar daring tersebut mencakup seluruh satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, hingga SMP, baik sekolah negeri maupun swasta di wilayah Kota Depok.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok Wahid Suryono menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk perlindungan bagi peserta didik sambil memantau kondisi kualitas udara dan sebaran abu vulkanik di lapangan. Pemerintah kota akan terus mengevaluasi situasi sebelum memutuskan jadwal kegiatan belajar mengajar selanjutnya.
"Depok mengambil kebijakan belajar dari rumah (BDR), PJJ dua hari, Senin鈥揝elasa. Sambil dievaluasi nanti perkembangannya seperti apa, mudah-mudahan membaik," ujar Wahid Suryono pada Minggu, 6 September 2026.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Ketentuan Jenjang SMA dan Imbauan Kesehatan
Untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat, regulasi operasional pembelajaran tidak berada di bawah wewenang pemerintah kota. Kebijakan bagi tingkat SMA akan diatur tersendiri melalui surat edaran dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang disiapkan secara terpisah.
Selain mengalihkan proses belajar ke rumah, pihak dinas mengimbau para siswa dan orang tua untuk menekan aktivitas di luar ruangan selama masa sebaran abu vulkanik. Jika terpaksa bepergian, masyarakat diminta untuk selalu mengenakan masker guna mencegah partikel debu halus masuk ke saluran pernapasan.
"Jadi, memang harus membatasi aktivitas di luar ruangan. Kalau keluar ruangan pakai masker, jadi sebaiknya tetap di dalam rumah. Karena bagaimanapun debunya halus, khawatir nanti mengganggu kesehatan," lanjut Wahid.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Analisis Sebaran Abu Vulkanik BMKG
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), material abu vulkanik Gunung Anak Krakatau teridentifikasi menyebar luas hingga menjangkau sejumlah daerah di Lampung, DKI Jakarta, Banten, dan sebagian wilayah Jawa Barat.
BMKG mengonfirmasi data tersebut berdasarkan rekaman citra satelit RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, yang diperkuat informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin. Dari pemantauan tersebut, terdeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik.
Klaster pertama terpantau berada dari ketinggian permukaan hingga 20.000 kaki (sekitar 6.000 meter) yang bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup perairan Selat Sunda, sebagian Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Kondisi atmosferik inilah yang melandasi langkah antisipasi sektor pendidikan di kawasan sekitar ibu kota, termasuk Depok.






