Pembangunan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi Ciangir di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal. Proyek berskala besar ini diproyeksikan menelan nilai investasi sekitar Rp1 triliun. Lahan seluas 20 hektare tersebut akan dikembangkan menjadi pusat penggemukan sapi dan kawasan ketahanan pangan. Bagi para pelaku usaha, nilai investasi yang besar ini menandakan adanya perputaran ekonomi jangka panjang. Pengembangan kawasan ini bertujuan utama untuk memperkuat pasokan daging sapi sekaligus mendukung ketahanan pangan bagi masyarakat di wilayah Jakarta. Dengan alokasi dana yang signifikan, proyek ini menjadi salah satu pendorong aktivitas ekonomi di sekitar wilayah Banten dan sekitarnya.
Langkah strategis ini merupakan tindak lanjut dari persetujuan penggunaan Barang Milik Daerah (BMD). Persetujuan tersebut dikeluarkan oleh Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta untuk mengoptimalkan aset yang ada. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Ciangir tersebut akan dikembangkan secara khusus sebagai kawasan ketahanan pangan. Pengembangan ini tidak hanya berfokus pada peternakan sapi, tetapi juga mencakup sektor perikanan dan pertanian. Selain itu, Pramono Anung juga menegaskan bahwa kawasan tersebut sama sekali tidak akan difungsikan sebagai lokasi alternatif untuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Fokus utamanya murni untuk membangun ekosistem ketahanan pangan yang terintegrasi dan produktif.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

Dalam operasionalnya, proyek ini dikelola langsung oleh Perumda Dharma Jaya. Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, menjelaskan bahwa kawasan ini akan dikembangkan sebagai peternakan sapi terpadu dengan fasilitas yang komprehensif. Di atas lahan seluas 20 hektare tersebut, akan dibangun berbagai infrastruktur pendukung, mulai dari kandang penggemukan, kandang karantina, hingga rumah potong hewan (RPH). Selain itu, terdapat juga lahan khusus untuk penanaman hijauan pakan ternak. Pengelolaan seluruh fasilitas ini akan menerapkan sistem modern yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi serta produktivitas hasil peternakan. Penggunaan teknologi juga akan diterapkan agar kebutuhan pakan ternak dapat dipenuhi secara mandiri, sehingga kualitas sapi yang dihasilkan tetap terjaga dengan baik.
Kehadiran kawasan peternakan terintegrasi ini membawa potensi dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat di sekitar Kabupaten Tangerang dan Banten. Dengan nilai investasi mencapai Rp1 triliun, proyek ini diproyeksikan mampu menyerap banyak tenaga kerja dari berbagai bidang, mulai dari tahap konstruksi hingga operasional sehari-hari. Selain penyerapan tenaga kerja, peluang ekonomi lain yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat adalah kemitraan dalam penyediaan hijauan pakan ternak. Kemitraan ini membuka jalan bagi pemberdayaan pelaku usaha lokal di sektor pertanian dan logistik. Keterlibatan masyarakat sekitar dalam rantai pasok pakan ternak ini diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan baru dan menggerakkan roda perekonomian di tingkat daerah.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Meskipun menawarkan berbagai peluang ekonomi, realisasi dari proyek Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi Ciangir ini masih membutuhkan waktu. Saat ini, proyek tersebut masih berada pada tahap awal yang meliputi koordinasi lintas instansi, sosialisasi kepada masyarakat sekitar, serta proses pengurusan perizinan. Pembangunan infrastruktur kawasan itu sendiri dijadwalkan baru akan dimulai pada bulan November tahun 2026. Dengan adanya jeda waktu hingga akhir 2026, para pelaku usaha lokal memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri. Persiapan yang matang, baik dalam peningkatan kapasitas tenaga kerja maupun perencanaan kemitraan penyediaan pakan, akan sangat menentukan seberapa besar manfaat ekonomi yang bisa diraih saat proyek ini mulai beroperasi secara penuh.






