Persetujuan investasi properti residensial oleh investor asal Indonesia di Australia kini telah mencapai nilai sekitar AUD 100 juta. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu kelompok investor terbesar dari Asia setelah China, Hong Kong, dan Taiwan. Salah satu langkah nyata diambil oleh Capital Value International Group (CVIG), yang dipimpin oleh CEO Chandra Leonardi. Perusahaan ini memutuskan untuk mengembangkan proyek perumahan di Sydney, Australia, alih-alih berfokus sepenuhnya di dalam negeri. Langkah strategis ini mencerminkan tingginya minat pelaku usaha tanah air terhadap potensi pasar properti di luar negeri.
Keputusan untuk berekspansi ke Sydney didorong oleh ketimpangan antara pasokan dan permintaan hunian yang sangat tinggi. Kota terbesar di Australia tersebut mengalami kekurangan pasokan sekitar 187.000 rumah pada tahun 2026. Menurut data dari SQM Research, tingkat kekosongan (vacancy rate) hunian di Sydney berada di kisaran yang sangat rendah, yaitu sekitar 1,3%. Untuk mengatasi krisis hunian ini, pemerintah setempat aktif mengubah wilayah-wilayah lama menjadi wilayah baru guna memperbanyak ketersediaan properti berstatus strata title. Kondisi pasar yang ketat inilah yang menjadi daya tarik utama bagi para pengembang.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Di tengah situasi tersebut, CVIG menggarap proyek townhouse di kawasan Roselands, Sydney. Proyek ini dibangun di atas lahan seluas hampir 2.000 meter persegi dan direncanakan akan menghasilkan tujuh unit townhouse. Lokasi proyek dinilai sangat strategis karena berjarak kurang dari 20 kilometer dari pusat kota Sydney, atau hanya membutuhkan waktu perjalanan sekitar setengah jam. Proyek skala menengah seperti ini dirancang untuk merespons kebutuhan hunian yang mendesak di kawasan suburban yang dekat dengan pusat bisnis. Pengembang asal Indonesia melihat celah ini sebagai peluang bisnis yang menjanjikan di tengah tingginya permintaan pasar setempat.
Secara umum, pasar properti di Australia ditopang oleh pertumbuhan populasi yang kuat. Pertumbuhan ini digerakkan oleh masuknya tenaga kerja terampil melalui program migrasi khusus, mahasiswa internasional, serta arus migrasi permanen. Sydney dan Melbourne menjadi dua kota utama yang menyerap arus migrasi terbesar di negara tersebut. Berdasarkan data dari Australian Bureau of Statistics (ABS), nilai total pasar properti residensial di Australia telah menyentuh angka sekitar AUD 12,8 triliun. CoreLogic Australia juga mencatat bahwa median harga rumah di Sydney merupakan yang tertinggi di seantero Australia, dengan nilai melampaui AUD 1,2 juta.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Di samping faktor permintaan domestik, perubahan peta investasi global turut membuka celah baru bagi pengusaha Indonesia. Investasi properti dari China, yang sebelumnya mendominasi pasar Australia dengan nilai mencapai AUD 31,9 miliar per tahun, kini mengalami penurunan yang sangat signifikan. Pergeseran dinamika ini memberikan ruang bagi investor asal Indonesia untuk mengambil peran lebih besar di pasar properti Australia. Kendati demikian, setiap keputusan investasi luar negeri tetap memiliki risiko pasar, fluktuasi nilai mata uang, serta perubahan regulasi lokal yang perlu diantisipasi dengan cermat oleh para pelaku usaha. Tidak ada jaminan keuntungan instan dalam bisnis properti lintas negara, sehingga analisis pasar yang matang tetap menjadi kunci utama.






