Pengembangan potensi energi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran dinilai berpeluang besar mempercepat dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan nasional. Pemanfaatan sumber energi bersih ini diharapkan mampu memperluas bauran energi ramah lingkungan sekaligus menjaga kestabilan pasokan listrik regional.
Guru Besar Fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip), Prof Agus Setyawan, menyoroti bahwa operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi secara umum menghasilkan tingkat emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil. Pembangkit panas bumi menekan pelepasan senyawa polutan seperti karbon dioksida (CO2), sulfur oksida (SOx), nitrogen oksida (NOx), serta partikulat ke atmosfer.
Sistem pembangkit panas bumi bekerja dengan memanfaatkan energi panas alami dari dalam perut bumi untuk memutar turbin dan memproduksi daya listrik. Menurut pakar geofisika dan geotermal tersebut, karakteristik sumber panas serta teknologi yang diaplikasikan di lapangan menjadi faktor penentu utama terhadap performa pembangkit dan volume emisi yang dilepaskan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Fluida geotermal yang diekstraksi dari reservoir bawah tanah memang dapat membawa gas terlarut alami, seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). Kendati demikian, tingkat emisi gas tersebut bervariasi bergantung pada sifat fluida dan sistem konversi energi yang diterapkan.
Dari sisi mitigasi dampak lingkungan, keberlanjutan ekosistem di sekitar Gunung Ungaran tetap menjadi perhatian utama. Fluida panas bumi yang telah selesai digunakan dalam proses pembangkitan akan dialirkan dan disuntikkan kembali ke dalam reservoir melalui sumur reinjeksi. Metode reinjeksi tertutup ini berfungsi mencegah pembuangan limbah cair berbahaya ke permukaan sehingga kelestarian lingkungan dan cadangan fluida reservoir tetap terjaga.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Pemanfaatan potensi geotermal Gunung Ungaran ini diharapkan dapat memperkuat diversifikasi pasokan listrik, mengurangi ketergantungan pada satu jenis pembangkit konvensional, serta mendukung target transisi energi rendah karbon secara berkesinambungan.






