Keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi di Indonesia menunjukkan peranan yang sangat signifikan, khususnya pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri kreatif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, tercatat sebanyak 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan. Selain itu, peranan perempuan juga tercatat sangat kuat pada sektor ekonomi kreatif, dengan kontribusi mencapai 58,39 persen dari total tenaga kerja di sektor tersebut. Angka-angka ini menggambarkan bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam menggerakkan roda perekonomian nasional melalui berbagai unit usaha yang dijalankan.
Signifikansi kontribusi perempuan tersebut menjadi fokus pembahasan utama dalam forum Inclusion Talk dengan tajuk 'Berdaya dan Sejahtera, Perempuan Bisa'. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bank Indonesia sebagai bagian dari rangkaian perhelatan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang berlangsung di JICC, Jakarta. Penyelenggaraan forum ini menjadi wadah untuk mengangkat berbagai peluang, tantangan, serta langkah konkret yang dapat diambil guna memperkuat kapasitas dan peran perempuan dalam perekonomian secara berkelanjutan.
Dalam agenda tersebut, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menggarisbawahi pentingnya perluasan akses dan kesempatan bagi perempuan di berbagai sektor ekonomi. Dalam keterangan tertulis pada Jumat, 21 Agustus 2026, Filianingsih menyatakan bahwa semakin luas akses dan kesempatan yang dimiliki perempuan, semakin besar pula dampaknya bagi perekonomian nasional secara berkelanjutan. Keterbukaan kesempatan bagi kaum perempuan menjadi faktor penting dalam mewujudkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.
Laba Usaha InJourney Naik 10%, Ini Pesan BP BUMN

Pandangan mengenai penguatan peran perempuan juga disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), Arifah Fauzi. Menteri PPA menekankan bahwa pemberdayaan perempuan sejatinya bukan sekadar agenda untuk mewujudkan kesetaraan semata, melainkan juga berfungsi sebagai strategi pembangunan ekonomi yang inklusif. Melalui pendekatan pembangunan yang inklusif ini, kemajuan ekonomi diharapkan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara adil dan merata.
Sebagai wujud langkah konkret dalam memperkuat strategi pembangunan tersebut, Bank Indonesia berkolaborasi dengan Women's World Banking (WWB). Kerja sama ini diwujudkan melalui peluncuran sebuah kajian bertajuk 'Menuju Model Bisnis Inklusif yang Responsif Gender: Pembelajaran dari Kelompok Subsisten di Indonesia'. Kajian ini disusun guna menelaah pembelajaran dari kelompok subsisten sekaligus merumuskan model bisnis yang responsif terhadap aspek gender di Indonesia.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Upaya pendampingan ekonomi sendiri telah dijalankan oleh Bank Indonesia melalui Program Ekonomi dan Keuangan Inklusif untuk Kelompok Subsisten. Program yang telah dirintis dan diimplementasikan sejak tahun 2021 tersebut saat ini telah direplikasi di seluruh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Dalam Negeri. Replikasi ini dilakukan guna memastikan bahwa upaya penguatan ekonomi inklusif dapat menjangkau kelompok subsisten di berbagai daerah di tanah air secara berkesinambungan.
Dalam pelaksanaannya, penguatan program inklusi ekonomi ini diarahkan pada sejumlah aspek utama. Penguatan tersebut difokuskan pada penerapan prinsip Akses, Partisipasi, Kontrol, dan Manfaat (APKM), penguatan representasi serta kepemimpinan perempuan, dan pemanfaatan teknologi digital yang adaptif dan inklusif. Melalui integrasi berbagai aspek strategis tersebut, perempuan diharapkan dapat terus memaksimalkan potensinya dalam mengelola usaha serta memperluas kontribusi nyata bagi ketahanan ekonomi nasional.






