Operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah mulai memicu tekanan finansial berat di internal Angkatan Laut AS (US Navy). Lonjakan biaya tempur dalam konflik melawan Iran memaksa militer mengalihkan berbagai pos anggaran rutin, hingga memunculkan peringatan mengenai ancaman defisit pada pos pembayaran gaji prajurit.
Dokumen internal Pentagon yang diungkap The Guardian serta keterangan sejumlah pejabat dan analis pertahanan mengonfirmasi adanya ketegangan kas tersebut. Sebuah memo memperingatkan potensi kekurangan dana pada daftar penggajian personel militer karena anggaran dialihkan untuk menopang kebutuhan operasi tempur. Seorang pejabat Angkatan Laut bahkan menyebut dana gaji terpaksa ditarik demi membiayai kebutuhan kontingensi luar negeri.
Pembengkakan biaya ini didorong oleh operasi gabungan AS dan Israel terhadap Iran yang menguras persediaan amunisi dalam jumlah besar, sekaligus memicu serangan balasan ke berbagai pangkalan strategis AS di kawasan. Di sisi lain, armada laut AS harus menjalankan misi blokade maritim yang ekstensif, sehingga anggaran tahun 2026 yang mendekati US$300 miliar (sekitar Rp5.310 triliun) mengalami tekanan berat.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Dampak keterbatasan dana tidak hanya membayangi pos gaji, tetapi juga telah menghentikan sejumlah agenda perawatan fasilitas non-darurat di pangkalan darat. Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Daryl Caudle sebelumnya telah memperingatkan Kongres AS bahwa krisis pendanaan akan muncul sekitar Juli, yang dapat berdampak langsung pada pemotongan porsi latihan militer dan operasi rutin.
Merespons situasi tersebut, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mendesak Kongres untuk segera meloloskan paket pendanaan darurat. Hegseth mencatat operasi perang Iran sejauh ini telah menelan biaya US$35,7 miliar atau sekitar Rp631,9 triliun. Guna menambal defisit, pemerintahan Donald Trump telah mengajukan tambahan anggaran sebesar US$67 miliar (sekitar Rp1.185,9 triliun) untuk Departemen Pertahanan.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Analis pertahanan dari American Enterprise Institute, Todd Harrison, menilai krisis anggaran akibat eskalasi militer ini sebenarnya bukan kejutan bagi internal militer AS, meski isu pengalihan pos gaji baru mengemuka seiring membengkaknya tagihan operasi tempur di lapangan.






