Krisis energi global menghadapi ancaman baru seiring meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Setelah lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz terganggu secara signifikan, ancaman kini beralih langsung ke Laut Merah menyusul pergerakan militer kelompok Houthi di pesisir Yaman yang mengancam rute ekspor minyak Arab Saudi.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan merebut kota pelabuhan Mocha dan bergerak menuju Kepulauan Hanish, menurut sumber militer pemerintah Yaman. Wilayah tersebut memperkuat kendali Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur masuk utama di sisi selatan Laut Merah yang menghubungkan jalur perdagangan maritim dunia.
Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, memperingatkan bahwa penguasaan Mocha memberi Houthi akses langsung ke salah satu selat paling vital di dunia. Laut Merah menjadi jalur krusial bagi Arab Saudi yang mengandalkannya untuk menyalurkan minyak mentah setelah operasional di Selat Hormuz鈥攋alur yang sebelumnya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia鈥攖erhenti secara efektif akibat konflik dengan Iran.
Was-was Menanti Kebijakan The Fed, Rupiah Melemah ke Rp 17.705 per Dolar AS

Pasar Energi Global Bergejolak
Ketidakpastian pasokan memicu lonjakan langsung pada pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak sebesar 4% hingga melampaui level US$105 per barel. Dampak kenaikan harga bahan bakar juga menjalar ke negara konsumen, di mana harga rata-rata bahan bakar diesel nasional di Amerika Serikat menembus lebih dari US$6 per galon.
Gangguan rantai pasok maritim diperparah oleh penurunan drastis volume kapal di Selat Hormuz. Berdasarkan data awal pelacakan pelayaran pada Rabu, hanya tujuh kapal yang melintasi selat tersebut, setara dengan separuh dari rata-rata volume lalu lintas selama 10 hari terakhir. Di saat yang sama, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Iran melancarkan serangan terhadap kapal nirawak milik Amerika Serikat di pintu masuk Selat Hormuz.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Perluasan Pengaruh Militer dan Sikap Para Pihak
Sumber dari pemerintah Yaman, Iran, dan otoritas kawasan menyebutkan bahwa pergerakan Houthi di sepanjang pesisir mendapat arahan langsung dari Korps Garda Revolusi Iran. Perwakilan Amerika Serikat, Jenifer Neidhart de Ortiz, menuding Houthi bertindak sebagai agen dan alat kepentingan Iran di jalur perairan tersebut.
Di sisi lain, juru bicara Houthi, Mohammed Abdulsalam, menegaskan bahwa seluruh pergerakan militer mereka bersifat defensif dan akan dihentikan jika serangan terhadap Yaman berakhir. Pihak Houthi juga menyatakan bahwa perlintasan pelayaran di Laut Merah tetap terbuka dan aman bagi seluruh kapal komersial, terkecuali kapal-kapal yang dimiliki oleh Arab Saudi.






