Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian melayangkan kecaman keras terhadap sanksi ekonomi sepihak yang diberlakukan negara-negara Barat. Melalui pidato utama di Forum Bisnis Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS, kedua pemimpin negara tersebut secara terbuka menyerukan negara-negara di belahan bumi selatan (Global South) untuk mempererat integrasi perdagangan dan memutus ketergantungan pada sistem keuangan dominasi Barat.
Dalam forum tersebut, Pezeshkian mendesak blok BRICS menciptakan tatanan perdagangan yang adil tanpa adanya gangguan monopoli instrumen keuangan maupun teknologi dari negara tertentu. Iran secara spesifik mendorong perluasan skema transaksi menggunakan mata uang lokal (local currency settlement) antarnegara anggota demi memangkas dominasi mata uang asing di pasar global.
Pezeshkian juga menyoroti eskalasi tekanan terhadap Teheran yang kini telah bergeser dari sanksi ekonomi menuju agresi militer terbuka oleh Amerika Serikat dan Israel. Menghadapi situasi tersebut, Pezeshkian menegaskan bahwa ketahanan pangan dan energi merupakan dua pilar fundamental yang wajib dijaga untuk menopang keamanan ekonomi bersama.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Pergeseran PDB Global dan Tantangan Sanksi
Presiden Vladimir Putin membeberkan bahwa Rusia saat ini telah dihantam lebih dari 30.000 sanksi ekonomi. Jumlah tersebut bahkan mencapai dua kali lipat dari akumulasi seluruh sanksi yang dijatuhkan ke negara-negara lain di dunia secara gabungan. Kendati demikian, Moskow terus memperluas kerja sama strategis di sektor pariwisata, perdagangan bilateral, serta investasi swasta dengan negara-negara Global South.
Putin turut memaparkan bahwa kekuatan ekonomi negara-negara BRICS telah melampaui kelompok G7. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, negara-negara anggota BRICS diklaim telah menggerakkan lebih dari 40% pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, sedangkan kontribusi blok G7 berada di kisaran 29%.
Kondisi perlawanan ekonomi ini mengemuka di tengah dinamika politik Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat memberi sinyal bahwa penyelesaian konflik Ukraina berpeluang membuka jalan normalisasi hubungan dagang. Namun, ketegangan geopolitik saat ini justru memicu disrupsi baru pada stabilitas pasar komoditas.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Gejolak Pasar Energi AS Akibat Eskalasi Konflik
Perseteruan yang meruncing antara AS dan Iran memicu kepanikan pasokan energi global, terutama menyusul instabilitas dan blokade de facto di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengangkutan minyak mentah serta gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah.
Tekanan ini langsung berdampak pada pasar energi domestik AS. Kontrak berjangka minyak mentah AS menembus level psikologis US$ 100 per barel pada hari Kamis untuk pertama kalinya sejak Mei. Tidak lama berselang, harga bahan bakar solar di AS mencatatkan rekor dengan melampaui US$ 6 per galon pada hari Jumat akibat terganggunya rantai pasok dari perang di Ukraina dan Iran, yang secara langsung melipatgandakan beban biaya transportasi dan logistik di negara tersebut.






