PT Pertamina Patra Niaga memproyeksikan Kilang Cilacap di Jawa Tengah menjadi proyek green refinery pertama di Indonesia yang difokuskan untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar. Proyek strategis ini dirancang untuk memperkuat kemandirian energi hijau nasional, khususnya dalam penyediaan bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Fasilitas kilang bioavtur tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 17,5 hektare di dekat Kilang Unit IV Cilacap. Proyek pengembangan bahan bakar hijau ini diperkirakan membutuhkan total nilai investasi mencapai 1,1 miliar dolar AS.
Target Operasi dan Peningkatan Kapasitas
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, Hermawan Budiantoro, menyatakan bahwa proyek ini ditargetkan mulai berjalan pada 2027 dan beroperasi penuh pada 2029.
Prabowo Perintahkan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu untuk Program BBM E20

"Kami target proyek itu jalan pada 2027," ujar Hermawan.
Saat ini, kapasitas produksi bioavtur di unit Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) Kilang Cilacap tercatat sebesar 27 kiloliter per hari. Keberadaan kilang bioavtur baru tersebut diproyeksikan menambah kapasitas produksi sebesar 860 kiloliter per hari, sehingga total kapasitas produksi SAF di Kilang Cilacap akan mencapai 887 kiloliter per hari pada 2029.
Jorindo Agung Siapkan Langkah Ekspansi ke Sektor Energi Hijau

Pemanfaatan Minyak Jelantah dan Dampak Ekonomi
Dalam pengembangan SAF, Kilang Cilacap memanfaatkan bahan baku Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah. Pemanfaatan limbah minyak jelantah ini membuka peluang pengolahan sumber daya yang sebelumnya merupakan limbah agar terintegrasi ke dalam rantai nilai energi, sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.
Selain memperkuat pasokan energi bersih, proyek kilang SAF ini memiliki potensi kontribusi ekonomi yang signifikan. Keberadaan fasilitas ini berpotensi mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga Rp199 triliun per tahun serta menyerap estimasi tenaga kerja sekitar 5.900 orang. Dari aspek lingkungan, operasional proyek ini juga berpotensi memangkas emisi tahunan sebesar 600 ribu ton setara karbon dioksida (CO2e).






